Waktu Lebaran

Habis sholat Idhul Fitri berpose dulu di rumah..

Di Kudus

Mau beli jajanan khas Kudus eh ada museum rumah adatnya..numpang foto..

Di Jogja

Beli blangkon khas Jogja.. Coba dulu baru beli..

Pelatihan Khatib dan Da'i Muda

untuk mengembangkan bakat da'i muda dan mencetak khatib handal...

Mina 2005

Waktu di Mina ama bapak

Candi Cetho Karanganyar

Touring ke candi Cetho, Karanganyar.. kalo kesini lebih baik pake motor, jangan mobil. soalnya jalannya nanjak banget..

Minggu, 22 Januari 2012

Met Imlek Aja




Iwan Hafidz Zaini Mengucapkan selamat hari raya Imlek 2563 pada tanggal 23 Januari 2012 kepada yang menjalankannya. Gong Xi Fat Cai !!
Xin Nian Kuai Le.Zhù Ni Shenti Jiànkäng, Quanjiä Xingfu,Wànshì Ruyì.. Gong Xi..! Gong Xi..!

Minggu, 08 Januari 2012

Bekal Menuju Tujuan Abadi

Dalam kehidupan ini ada dua kata yang berlainan namun keduanya merupakan pasangan. Dan keduanya walau berlainan namun tak dapat dipisahkan. Ada siang ada malam, ada baik ada buruk, ada atasan ada bawahan, ada kaya ada miskin, ada suka ada duka, ada hidup ada mati.

Begitulah, jika sesuatu dikatakan hidup pasti tak akan lepas dari yang namanya mati. Artinya, semua yang hidup pasti mati. Karena hal tersebut telah dinash oleh Allah, “kullu nafsin dzaiqotul maut” setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Segala jenis makhluk hidup mulai dari tumbuh-tumbuhan, hewan, manusia, jin dan malaikat semuanya akan mengalami kematian. Termasuk malaikat pencabut nyawa sendiri juga akan merasakan kematian.


Kita tidak ada yang mengetahui kematian seseorang atau diri sendiri. Karena hal tersebut adalah rahasia Allah. Jikalau kematian datang menjemput kita juga tidak bisa mengadakan negoisasi dengan malaikat Izroil. Kita tidak bisa merayu malaikat untuk mengundur waktu kematian sedetik pun. Sebab, Allah telah berfirman:

Apabila ajal telah datang, kita tidak bisa mengakhirkan (mengundur, tawar menawar dengan malaikat) waktu sesaat dan juga tidak bisa mengajukan.

Oleh karena itu, bagi kita yang masih diberi kesempatan oleh Allah menghirup udara segar ini harus mempersiapkan diri. Apa yang harus kita persiapkan? Tentu saja bekal yang cukup. Karena hidup ini ibarat kita berkelana. Dan tujuan kita adalah akherat. Untuk menuju ke tempat tujuan kita tentunya kita harus membawa bekal. Sebagaimana perkataan ulama:

Man dakhola qobron bila zaadin fakaannama rokiba albahro bila safinatin

Barangsiapa yang masuk kubur tanpa bekal, ibarat menyeberangi sungai tanpa kapal.


Bekal apa yang baiknya kita bawa? Sebagaimana pesan Nabi Muhammad Saw. Bekalnya ada 3.

Pertama, Shodaqoh Jariyah. Kita menafkahkan harta di jalan Allah, kita sedekah ke masjid, membiayai anak-anak yatim, infak untuk pembangunan sekolah guna mencerdaskan umat, itulah bekal kita. Selain itu, efek dari sedekah ini sangat luar biasa. Allah melipatgandakan pahala sedekah saampai tujuh ratus kali lipat. Bayangkan jika kita sedekah uang Rp. 1000 dikalikan 700 maka pahalanya disisi Allah adalah 700.000, tujuh ratus ribu. Itu kalau dikalkulasi. Tapi pahala adalah rahasia Allah. Makanya, milyader-milyader dunia semacam Bill Gate, Donald Trump mempunyai hobi menyedekahkan sebagian hartanya untuk kemanusiaan. Dan itu tidak mengurangi kekayaan mereka. Malah bertambah dengan bukti mereka masih menjadi manusia tertajir di dunia ini.

Kedua, ilmu yang bermanfaat. Jika orang yang meninggal itu tidak memiliki cukup harta selama hidupnya dan lantas kurang memiliki sodaqoh jariyah, maka ia bisa memperoleh pahala dari ilmunya. Ilmu yang memberi manfaat kepada orang banyak. Lantas, apa ilmu hanya sebatas ilmu agama saja? Tidak. Karena ilmu agama pun bisa menyesatkan bila diajarkan dengan pemahaman yang keliru. Bisa kita lihat aksi bom bunuh diri akibat pengajaran ilmu agama yang keliru. Ilmu-ilmu yang ada di dunia ini adalah ilmu Allah. Ilmu yang bisa memberi manfaat kepada orang lain itulah yang baik. Seumpama kita memiliki ilmu komputer, kemudian kita ajarkan kepada orang lain dan kemudian orang lain tersebut bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya menggunakan ilmu komputer yang telah kita ajarkan berrati ilmu kita telah bermanfaat bagi orang tersebut.

Ketiga, anak sholeh yang mendoakan kedua orangtuanya. Doa anak sholeh ini bakal terus mengalir buat orangtua yang sedang di’tahan’ oleh Allah di alam barzakh. Oleh karena itu, kewajiban kita sebagai orangtua tentunya agar mendidik putra-putri kita supaya menjadi anak yang sholeh yang mau mendoakan orangtuanya tatkala orangtuanya masih hidup ataupun sudah meninggal.


Ketiga hal yang disebut Nabi bakal bisa tetap mengalirkan pahala kepada orang yang sudah mati itu memang sangat logis, masuk akal. Shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh itu adalah investasi manusia semasa hidupnya.
Ibaratnya kita keluar modal untuk sebuah perusahaan dan perusahaan itu untung, maka kita tentu saja mendapat keuntungan meskipun kita tidak ikut mengendalikan perusahaan tersebut. Sama dengan orang yang berada di alam kubur atau alam barzakh. Meskipun ia telah pasif, tidak bisa beraktifitas lagi, akan tetapi investasi-investasi yang telah ia tanam semasa hidupnya akan tetap mengalir. Ketika masjid yang ia bangun masih digunakan untuk aktifitas ibadah umat, maka selama itu pula pahalanya akan tetap mengalir sebagai catatan kebaikan. Jika ilmu yang ia ajarkan membawa manfaat kepada orang banyak, maka pahala atas ilmunya juga akan mengalir menambah amal baiknya. Demikian pula, jika anaknya yang sholeh itu berbuat baik, maka hal tersebut adalah hasil jerih payahnya mendidik sang anak. Pahalanya akan tetap mengalir.


Gajah mati meninggalkan gading. Harimau mati meninggalkan belang. Tak ada yang mampu mengabadikan hiidup manusia selain peninggalannya. Maka tak heran jika Rasulullah Saw pernah bersabda, “Manusia yang paling baik adalah manusia yang peling bermanfaat bagi lingkungannya.”

Sekarang masalahnya adalah seringkali manusia lupa bahwa sesungguhnya hidup ini adalah untuk mati. Tak kurang dan tak lebih. Kehidupan dunia dengan segala pernak-perniknya telah membuat manusia gila dan terlena. Manusia tak ada bedanya dengan laron-laron dimusim hujan yang keluar dari tanah dan mengejar cahaya. Kian dekat dunia digapai, kian besar bahaya dituai. Terangnya sinar lampu dunia telah membuat manusia gelap mata bahwa semakin dekat manusia dengan sumber cahaya, semakin tinggi pula suhu dan panasnya. Dan manusia bisa terbakar didalamnya dengan sia-sia. Seorang muslim selayaknya jika siang ia seperti singa yang mencari buruannya. Tapi, jika datang senja, ia menjadi rahib yang merintih meminta ampun kepada Tuhannya.
Kiranya cukup sekian. Kurang lebihnya mohon maaf semoga kita bisa mengambil manfaatnya.

Rabu, 16 November 2011

Khutbah Jum'at KEJUJURAN MEMBAWA NIKMAT

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Pada siang hari ini saya mengajak kepada diri saya sendiri juga kepada hadirin jamaah Jum’at untuk senantiasa menjaga dan meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah Swt. Sebab, kemulyaan manusia dihadapan Allah bukanlah bagi mereka yang berharta, bukan yang berpangkat dan berkedudukan tinggi. Tapi, kemuliaan manusia di hadapan Allah adalah dinilai dari kadar ketaqwaannya. Seberapa besar dia merasa takut kepada Allah, seberapa besar dia merasa selalu diawasi oleh Allah. Karena ketaqwaan inilah yang menunjukkan bahwa puasa kita di bulan Ramadhan benar-benar berkualitas.

Hadirin jamaah Jum’at yang berbahagia,
Salah satu sifat yang dimiliki oleh Rasulullah adalah sifat siddiq (jujur). Sifat inilah selalu diperintahkan oleh Nabi kepada umatnya untuk selalu berbuat jujur. Jujur ini adalah sifat yang gampang-gampang susah. Dikatakan gampang karena seseorang yang tidak terlibat banyak masalah atau kepentingan akan mudah untuk mengatakan sesuatu dengan jujur atau apa adanya. Tapi, apabila dia terlibat dengan suatu masalah dan mempunyai suatu kepentingan maka sangat susah untuk mengatakan kejujuran. Kecuali, tentu saja orang-orang yang konsisten dan berkomitmen dengan kejujuran.

Kenyataan yang kita jumpai disekeliling kita adalah sangat sulit mencari orang yang jujur. Baik jujur dalam ucapan maupun jujur dalam tindakan atau pekerjaan. Ya, itu karena mereka yang tidak jujur tersebut mempunyai kepentingan atau suatu kebutuhan. Sehingga, mereka melakukan ketidakjujuran demi mencapai atau mendapatkan kepentingan tersebut.
Ada yang mengatakan “yen jujur ajur”. Benarkah begitu?

Rasulullah Saw bersabda:
عليكم بالصدق فان الصدق يهدى الى البر وان البر يهدى الى الجنة وان الرجل ليصدق حتى يكتب عند الله صديقا
“Hendaklah kalian selalu jujur karena kejujuran menuntun kepada kebajikan. Dan kebajikan menuntun ke syurga. Sesungguhnya seseorang yang jujur ditulis disisi Allah sebagai orang yang jujur”

Dari hadist di atas jelas bahwa kejujuran membawa ke syurga. Jadi, tidak tepat jika ada yang mengatakan “yen jujur ajur”. Malah sebaliknya, jujur akan membawa kenikmatan yang tak terkira, yaitu syurga. Jika ada yang mengatakan “jujur ajur” kemungkinan itu adalah perkataan di lingkungan yang mayoritas para pendusta, pembohong. Sehingga orang yang jujur akan dimusuhi mayoritas pendusta ini.
Jika kita hidup ditengah para pendusta dan kita tetap konsisten dengan kejujuran kita kemungkinan kita akan dimusuhi oleh para pendusta tersebut dan kemudian kita didzolimi atau dijebak supaya kita yang jujur ini “ajur”. Secara dhohir kita ajur di dunia. Tapi, syurga telah menanti kita. Sebagaimana sabda Nabi tadi. Oleh sebab itu, Rasulullah berpesan:

قل الحق ولو كان مرا
Katakan kebenaran walau pahit (HR. Ibnu Hibban)
Dalam kondisi apapun Rasul menyuruh kita untuk jujur, untuk mengatakan kebenaran walau sangat sulit. Karena Beliau menjanjikan syurga bagi orang-orang yang jujur.

Hadirin jamaah Jum’at yang berbahagia
Di akherat orang yang jujur akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur dan dimasukkan syurga. Di dunia orang yang jujur akan disenangi dan dipercaya makhluk. Orang yang berbisnis dengan kejujuran akan disenangi konsumen ataupun relasi bisnisnya. Seorang pejabat yang jujur akan disenangi rakyatnya. Seorang pegawai yang jujur akan dicintai dan disukai atasannya. Seorang suami yang jujur akan dicintai istrinya. Begitu juga sebaliknya.

Contoh konkrit adalah baginda Nabi Muhammad Saw. Beliau sejak kecil sudah terkenal dengan kejujurannya sehingga beliau dijuluki al-amin (yang dipercaya). Ketika beliau berdagang selalu mengutamakan kejujuran. Termasuk ketika membawakan dagangan Khadijah Ra. Akibat kejujurannya tersebut dagangannya laris dan kemudian Khadijah tertarik dengan beliau dan menjadikannya suami. Ketika beliau meneruma wahyu dan menceritakan kepada masyarakat, banyak yang mengimaninya karena mereka percaya bahwa Muhammad bukanlah pendusta. Walaupun ada yang tidak mengimani itu disebabkan karena sifat egois dan gengsi dari masyarakat Arab khususnya para pemimpin-pemimpin suku/kabilah.

Hadirin jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Sebaliknya sikap dusta, bohong akan membawa kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan ke neraka. Sebab satu kedustaan biasanya akan diikuti oleh kedustaan-kedustaan yang lainnya sehingga kehidupannya selalu dilingkupi oleh kedustaan. Bahkan sikat dusta ini merupakan salah satu ciri-ciri orang munafik. Dan orang munafik akan ditempatkan di neraka paling bawah. Sesuai firman Allah dalam surat An-Nisa’ ayat 145:

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah,

Oleh karena itu, marilah kita selalu memegang sikap kejujuran ini dalam kondisi dan situasi apapun. Karena hal ini merupakan perintah Allah.

Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar.

Begitulah orang yang jujur akan mujur. Mujur karena mendapat syurga dan dipercaya banyak orang dan dicintai Allah dan makhluk.

Siapa yang tidak mau mujur di akhir kehidupannya?

Kamis, 10 November 2011

Khutbah Jum'at Memperingati Hari Pahlawan


Pada siang hari ini, marilah kita senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah Swt dengan selalu melaksanakan segala perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Dan hendaknya kita senantiasa bersyukur kepada Allah atas segala kenikmatan yang telah diberikanNya kepada kita secara gratis. Walau terkadang ada kenikmatan yang diperoleh melalui usaha, perjuangan keras untuk mencapai kenikmatan tersebut. Salah satu diantara kenikmatan tersebut adalah kenikmatan kemerdekaan.

Hadirin Jamaah Jum’at yang berbahagia,

Setiap kali kita memperingati Hari Pahlawan, setiap kali itu pula kita diingatkan dengan peristiwa yang sangat heroik yang terjadi pada tanggal 10 November 1945. Pada saat itu tentara Belanda berusaha menguasai kembali Indonesia dengan memanfaatkan kehadiran tentara sekutu yang akan mengambil alih kekuasaan atas Kepulauan Nusantara ini dari pihak Jepang yang baru saja mengalami kekalahan dalam perang dunia ke II setelah Hirosima dan Nagasaki dihancurkan dengan bom atom oleh Amerika.

Rakyat Indonesia yang baru saja memproklamasikan kemerdekaannya tiga bulan sebelumnya, yakni pada tanggal 17 Agustus 1945, dengan sendirinya tidak dapat menerima kehadiran tentara sekutu yang diboncengi tentara Belanda tersebut. Dengan persenjataan yang serba sederhana tetapi dengan semangat yang tinggi untuk mempertahankan kemerdekaan para pejuang melancarkan perlawanan habis-habisan terhadap tentara sekutu yang menyerbu Surabaya dengan persenjataan yang jauh lebih modern, baik dari laut, udara maupun darat.


Fatwa para ulama Jawa Timur yang menyatakan bahwa perang untuk mengusir penjajah adalah jihad fi sabilillah mengobarkan semangat tempur para pejuang. Ribuan arek-arek Surabaya gugur dan menjadi syuhada’ dalam pertempuran itu. Namun pertempuran tersebut telah membuka mata dunia internasional bahwa bangsa Indonesia yang berdaulat masih ada dan putra putri Indonesia telah bertekad bulat untuk mempertahankan kemerdekaan hingga titik darah penghabisan.

Tanggal 10 Nopember ini, kita diingatkan akan sebuah hari yang bersejarah tersebut, yakni hari Pahlawan. Kepahlawanan dalam Islam, khususnya dalam konteks keindonesiaan merupakan sebuah tema yang menarik untuk dikaji, mengingat sebagian bangsa kita cenderung mereduksi (mengurangi) dan mempersempit makna pahlawan.

Pengertian Pahlawan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah orang yang berjuang dengan gagah berani dalam membela kebenaran. Atas rujukan tersebut, menjadi pahlawan adalah hal yang memungkinkan bagi setiap orang, tidak mengenal latar belakang sosial, siapapun dapat menjadi seorang pahlawan. Dalam konteks kenegaraan/kebangsaan, seorang pahlawan yang beriman kepada Allah swt yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini di dalam al-Qur’an adalah orang-orang yang berjuang di jalan Allah (fî sabîl-i ‘l-Lâh).


Seperti yang tercatat dalam QS al-Baqarah: 154:

وَلا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَكِنْ لا تَشْعُرُونَ


"Dan janganlah kalian sekali-kali mengatakan bahwa orang-orang yang berjuang (terbunuh) di jalan Allah itu mati melainkan mereka hidup tetapi kita tidak merasakan".


Sesungguhnya para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini, yang kita tahu maupun yang tidak kita tahu, mereka hidup di sisi Allah dan hidup di hati kita.


Hadirin Jamaah Jum’ah yang dirahmati oleh Allah

Alkisah, seorang raja Persia yang bernama Kisrâ Anû Syirwân melakukan observasi ke rumah-rumah para penduduk kerajaannya. Ketika ia tiba di satu rumah, di sana ia menemukan seorang kakek yang menanam pohon di halaman rumah tersebut. Sang raja tertawa dan bertanya, "Wahai kakek, kenapa kau menanam sebuah pohon yang akan berbuah 10-20 tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun ke depan, sedangkan kau mungkin tahun depan sudah mati dan kau tidak dapat menikmati buah-buahan dari pohon yang telah kau tanam?". Dengan penuh senyum dan optimisme sang kakek menjawab, "Wahai raja, laqad gharas-a man qabla-nâ fa akal-nâ orang-orang sebelum kita telah menanam pohon dan buah-buahan dari pohon tersebut kita nikmati sekarang wa naghris-u nahn-u li-ya’kul-a man ba‘da-nâ, dan kita menanam kembali pohon yang buah-buahannya akan dinikmati oleh orang-orang setelah kita".


Dari cerita tadi kita dapat memetik sebuah pelajaran bahwa kemerdekaan ibarat sebuah pohon yang telah ditanam oleh para pahlawan bangsa ini kendati pun mereka tidak pernah menikmatinya melainkan kenikmatan tersebut kita rasakan sekarang.



Begitu juga kita bisa memberi manfaat kepada para generasi penerus kita dengan menanam sesuatu kebaikan pada saat ini. Atau dengan kata lain, kita mengisi kemerdekaan ini dengan berbuat baik untuk negara dan masyarakat. Bukan merusak ataupun merugikan negara dan masyarakat. Kita berbuat kebaikan semampu kita. Bila kita hanya mampu berbuat baik dengan menggunaka harta, berbuat baiklah dengan menggunakan harta. Bila kita hanya mampu berbuat baik dengan ilmu dan fikiran, berbuat baiklah dengan ilmu dan fikiran. Bila kita hanya mampu berbuat baik dengan menggunakan kekuatan tenaga kita, berbuat baiklah dengan menggunakan tenaga kita. Karena segala perbuatan baik akan mendapat kehidupan yang baik dan pahala di sisi Allah.


Allah Ta'ala berfirman :


"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."(QS An Nahl : 97).


Begitulah, janji Allah. Bila kita berbuat baik untuk negeri ini, Allah akan memberikan kehidupan kita kehidupan yang baik. Terjauh dari malapetaka, krisis segala lini, bencana, dan lain sebagainya. Seperti para pejuang kemerdekaan yang telah berbuat baik dengan mengorbankan jiwa raganya untuk kemerdekaan dan kita bisa menikmati hasilnya dengan baik. Yaitu, bebas dari penjajahan. Lantas, sekarang adalah tugas kita untuk berbuat baik, berkorban untuk negeri ini agar Allah menyediakan kehidupan yang baik pula untuk anak-anak cucu kita besok. Apabila kita bersikap sebaliknya. Mengisi kemerdekaan dengan perbuatan yang dilarang oleh Allah, maka kita hanya bisa berlindung dari segala murkaNya.


Hadirin Jamaah Jumat yang berbahagia.


Watak manusia adalah merasa tidak cukup dengan apa yang dimiliki. Kemudian menghalalkan segala cara untuk meraihnya. Mereka mengisi kemerdekaan ini dengan saling sikut kiri-kanan padahal mereka adalah saudara sebangsa sendiri. Tujuannya hanya untuk kepentingan pribadi atau golongan untuk memperkaya diri. Hal ini tentu tidak diajarkan oleh Rasulullah Saw.

Sebagaimana hadits Abdullah bin Amr bin Al Ash Radiyallahu Anhu, Rasulullah Sallalah alaihi wasallam bersabda :

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

"Sungguh beruntunglah orang masuk kedalam Islam, diberi rezki yang cukup, dan merasa cukup dengan apa yang Allah berikan".(HR. Muslim no. 1746. Ahmad no.6284).


Inilah kenapa dulu Bung Karno pernah mengatakan, "Perjuanganku lebih mudah karna mengusir penjajah,Tetapi perjuanganmu akan lebih sulit karna melawan bangsamu sendiri."

Hadirin Jamaah Jum’ah yang berbahagia,

Kiranya cukup sekian khutbah jum’at pada siang hari ini. Semoga momentum peringatan hari pahlawan ini bisa menjadi bahan introspeksi kita sebagai warga negara dan umat beragama.


Karena Allah memerintahkan kita untuk belajar dari pengalaman masa lalu untuk menatap masa depan yang lebih cerah. Firman Allah SWT dalam surat Al-Hasyar ayat 18:


Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Rendah Diri bukan Merendahkan Diri


Pada zaman seperti saat ini, zaman dimana persaingan hidup sangat ketat, perputaran perekonomian sangat pesat. Atau bisa dikatakan siapa saja yang hidup hanya berpangku tangan dia akan ditinggal oleh zaman itu sendiri. Maka manusia dituntut untuk selalu berusaha sekuat tenaga, peras keringat banting tulang untuk menghadapi kehidupan yang keras ini. Adakalanya keberhasilan yang berhasil diraih dan sebaliknya, kegagalan yang dia dapat.


Bagi mereka yang mendapatkan keberhasilan terkadang merasa bahwa keberhasilan yang ia capai adalah benar-benar murni hasil keringat sendiri tanpa ada campur tangan orang lain. Bahkan Tuhan sekalipun dilupakan. Murni hasil tangan sendiri. Penyakit seperti inilah yang harus kita waspadai. Keberhasilan sekecil apapun harus tidak membuat kita lupa diri. Tidak boleh kita membanggakan diri atas keberhasilan yang kita raih.


Itulah mengapa agama menyuruh kita untuk bersikap tawadhu’ atau rendah diri (rendah hati). Tawadhu’ adalah kalau kita tidak melihat diri kita memiliki nilai lebih dibandingkan orang lain. Orang tawadhu’ adalah orang yang menyadari bahwa segala kenikmatan yang ia peroleh berasal dari Allah.


Hampir-hampir saat ini manusia sedikit terkikis sikap tawadhu’ atau rendah dirinya. Mereka mengartikan bahwa tawadhu’ adalah merendahkan diri dihadapan orang lain. Atau menghinakan diri di hadapan orang lain. Beda. Merendah diri di hadapan orang lain bukan dengan cara menghinakan diri sendiri. Mengemis minta belas kasihan atau menyanjung orang lain dan merendahkan diri kita.


Jika seseorang tidak memiliki sikap tawadhu’ atau rendah diri, maka yang timbul dari manusia tersebut adalah sikap sombong. Karena dia merasa bahwa segala keberhasilan adalah usahanya sendiri dan memandang rendah orang yang dibawahnya. Sikap benar sendiri dan tak mengakui kebenaran orang lain. Sikap sombong tersebut sangat dilarang oleh Allah dalam firman-Nya:


Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al-Isro’:37)


Dari ayat di atas, Allah melarang kita untuk bersikap sombong terhadap apa yang telah kita raih. Walaupun yang kita raih itu setinggi gunung. Tapi tetap tidak akan bisa. Atau dengan kata lain saya bisa mengatakan kita boleh sombong jika kita mempunyai kekayaan emas murni,intan, berlian sebesar gunung Himalaya!! Ada tidak? Kalau harta kita hanya beberapa gram atau kilogram emas, apa yang pantas kita sombongkan? Kita hanya bisa rendah diri bahwa kita tidak ada apa-apanya dibanding kekayaan yang Allah miliki.


Salah satu hal yang menjadi penghalang bagi kita untuk bersikap tawadhu’ atau rendah diri adalah sikap gengsi. Gengsi karena tidak mau mengakui kelebihan orang lain, tidak mau mengakui kebenaran orang lain, dan lain-lain. Bisa juga dikatakan bahwa gengsi adalah salah satu bentuk kesombongan.


Oleh sebab itu, marilah kita memiliki sikap rendah diri ini. Sekali lagi, rendah diri bukan merendahkan diri. Tandanya adalah disaat seseorang semakin bertambah ilmunya, maka semakin bertambah pula sikap tawadhu’ dan kasih sayangnya. Semakin tambah amalnya semakin tambah rasa takut dan waspadanya. Setiap kali bertambah usianya maka semakin berkurang ketamakan nafsunya. Semakin bertambah hartanya, semakin bertambah kedermawanannya. Semakin tinggi kedudukan atau posisinya maka semakin dekat pula dia dengan manusia atau rakyat dan berusaha menunaikan kebutuhan-kebutuhan mereka.


Dan yang perlu kita ketahui bahwa tawadhu’ ada dua,yaitu tawadhu’ terpuji dan tawadhu’ tercela. Tawadhu’ tepuji adalah sikap rendah diri seseorang terhadap Allah dan tidak mengangkat diri terhadap orang lain. Tawadhu’ yang tercela adalah sikap rendah diri seseorang kepada orang lain karena menginginkan dunianya (kekayaan,pangkat, jabatan, dll). Tawadhu’ yang pertama inilah yang harus kita miliki. Bukan sebaliknya, tawadhu yang tercela. Kita menghinakan diri kita kepada sesama makhluk karena adanya keinginan kita untuk mendapatkan sesuatu dari orang tersebut. Kita mendekat kepada orang tersebut dan merendahkan diri kita karena kita berharap dikasih uang, berharap dikasih jabatan, dan lain-lain. Atau dengan kata lain mengemis kepada makhluk Allah. Jika kita memiliki tawadhu’ yang pertama, yaitu sikap rendah diri kita terhadap Allah dan tidak mengunggulkan diri kita dihadapan orang lain. Maka Allah akan memuliakan kita.

Rasulullah bersabda “Tidaklah berkurang harta karena bersedekah, dan Allah tiada menambah pada seseorang yang memaafkan melainkan kemulyaan. Dan tiada orang yang bertawadhu’ kepada Allah melainkan dimuliakan oleh Allah” (HR. Muslim).

Lantas termasuk tawadhu’ yang manakah kita?

Selasa, 08 November 2011

Menuju Keimanan yang Sempurna

Sebagai orang yang beragama pasti kita punya keyakinan yang sangat mendalam terhadap agama ataupun ajaran-ajaran agama yang kita anut. Kita yakin bahwa segala perintah ataupun larangan-larangan dalam agama adalah berasal dari Tuhan, bukan berasal dari hawa nafsu utusan-Nya. Keyakinan-keyakinan ini dalam agama biasa disebut iman. Manusia yang punya keyakinan disebut orang beriman atau mukmin.


Dalam hidup, sebenarnya beragama saja tidak cukup. Kita harus menjadi seorang pribadi yang mukmin. Misal, sebagai orang yang menganut agama Islam, kita beragama Islam (berislam) saja tidak cukup. Akan tetapi, kita harus menjadi seorang yang mukmin agar kehidupan bermasyarakat kita menjadi hidup yang benar-benar rahmatan lil ‘alamin.

Maksud ber-Islam disini adalah Islam yang sebagaimana sekarang ini banyak terjadi, yaitu Islam identitas atau Islam KTP. Jadi, orang yang sudah mengucapkan iqrar dua kalimah syahadat dia sudah Islam. Tapi, belum cukup kalau dia belum meningkatkan aktifitasnya menuju tangga mukmin. Walaupun sholat, puasa, zakat dimasukkan sebagai rukun Islam akan tetapi ayat-ayat al-Qur’an menerangkan bahwa ‘panggilan atau seruan’ untuk melakukan sholat, puasa, zakat adalah untuk orang-orang mukmin.

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. kemudian apabila kamu telah merasa aman, Maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (QS.Annisa’:103)


Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS.Al-Baqoroh:183)


Bukan berarti orang Islam tidak wajib melakukan sholat atau puasa. Tetap wajib. Akan tetapi aktifitas sholat, puasa, zakat dan lain-lainnya akan meningkatkannya sebagai pribadi yang beriman.


Iman menurut bahasa adalah tashdiiq (mempercayai). Sedangkan menurut istilah adalah mempercayai Rasulullah dan berita yang dibawanya dari Allah. Perbedaan pendapat di kalangan ulama’ adalah apakah iman hanya cukup mempercayai dengan lisan atau harus dibuktikan dengan perilaku dengan cara melakukan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya? Kalau kalangan Murji’ah berpendapat iman mempercayai dengan hati dan lisan. Sedang golongan Karramiyyah cukup hanya dengan lisan saja. Adapun golongan Mu’tazilah berpendapat bahwa iman adalah perbuatan, ucapan dan keyakinan. Sedang ulama-ulama salaf menjadikan ‘perbuatan’ sebagai kesempurnaan dari iman.

Sebenarnya kita tidak boleh mengklaim bahwa iman kita telah sempurna. Tapi, kita harus selalu berusaha untuk menyempurnakan nilai-nilai iman kita. Sebagaimana kata Imam Syafi’i bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang (yazidu wa yanqusu). Artinya iman bisa bertambah dengan ketaatan dan bisa berkurang dengan kemaksiatan. Jadi, kita tidak mungkin tahu tentang kesempurnaan iman kita. Kita hanya bisa berusaha untuk meningkatkan keimanan kita. Ada banyak jalan yang ditunjukkan oleh Allah. Antara lain disebutkan dalam al-Qur’an:


Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqoroh:177)


Dari ayat di atas kita bisa mengambil kesimpulan bahwa untuk meningkatkan keimanan kita kita dianjurkan untuk:

1 Memberikan harta (sedekah), diutamakan terlebih dahulu kepada para kerabatnya. Karena sedekah kepada kerabat akan bernilai dua, pahala sedekah dan silaturahmi.
2 Memerdekakan hamba sahaya (budak). Zaman sekarang tidak ada hamba sahaya. Bisa kita maknai membayar upah pekerja/buruh/karyawan sesuai dengan haknya. Dan tidak menelantarkan hak-haknya.
3 Mendirikan sholat (ditambah sholat-sholat sunah),
4 Menunaikan zakat,
5 Menepati janji. Janji seakan-akan sesuatu yang ringan. Tapi, sebenarnya berat. Karena ia adalah amanat. Sehingga jika kita bisa menepati janji akan mendorong kedudukan kita menjadi seorang mukmin. Kita bisa melihat sekeliling kita betapa menepati janji menjadi hal yang sulit. Baik dari para kerabat kita sampai kepada para pejabat kita.
6 Sabar dalam kesempitan. Sabar dalam kelonggaran mungkin bisa dan mudah kita lakukan. Tapi, sabar dalam kesempitan dan penderitaan adalah suatu perbuatan yang berat untuk kita aplikasikan.

Itulah salah satu perbuatan-perbuatan yang bisa meningkatkan keimanan kita. Sahabat Ammar menambahkan “barangsiapa melakukan tiga perkara ini, maka ia telah memperoleh kesempurnaan iman. Yaitu, berlaku adil pada diri sendiri, menyebarkan salam (perdamaian) keseluruh alam (manusia) dan berinfak di saat susah.”

Adil pada diri sendiri bisa berarti ia berlaku jujur dalam setiap perbuatannya. Menyebarkan perdamaian bukan menebar ancaman teror adalah sarana kita untuk menuju kesempurnaan iman.

Akhir kata,

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman” (QS.Al-Mukminun:1)

Komen Via Facebook