Waktu Lebaran

Habis sholat Idhul Fitri berpose dulu di rumah..

Di Kudus

Mau beli jajanan khas Kudus eh ada museum rumah adatnya..numpang foto..

Di Jogja

Beli blangkon khas Jogja.. Coba dulu baru beli..

Pelatihan Khatib dan Da'i Muda

untuk mengembangkan bakat da'i muda dan mencetak khatib handal...

Mina 2005

Waktu di Mina ama bapak

Candi Cetho Karanganyar

Touring ke candi Cetho, Karanganyar.. kalo kesini lebih baik pake motor, jangan mobil. soalnya jalannya nanjak banget..

Selasa, 13 Oktober 2009

SELAMATKAN REMAJA INDONESIA

Remaja adalah sosok manusia yang belum matang, karena remaja adalah tahap / masa transisi dari anak-anak menuju dewasa yang mandiri. Karena keberadaannya itulah remaja dikatakan sebagai tahapan usia yang belum matang. Remaja juga disebut sebagai usia pencarian identitas atau jatidiri. Dalam proses pencarian jatidiri (aku), remaja selalu mencoba dan mencoba apa yang cocok untuknya.

Selama proses mencari "aku" inilah remaja akan selalu berinteraksi dengan lingkungannya. Akibatnya, dalam jangka panjang remaja akan berbentuk sesuai dengan lingkungan yang membentuknya. Ibarat roti, kalau alat cetaknya itu bagus, maka akan menghasilkan roti yang berbentuk bagus juga. Sebaliknya, bila alat cetaknya tidak karuan, juga akan tercetak roti seperti pencetaknya.

Dalam kehidupan, ada lingkungan yang baik dan ada yang buruk. Lingkungan yang baik akan membentuk remaja menjadi baik dan lingkungan yang buruk akan membentuk remaja yang buruk pula. Memang,lingkungan berpengaruh besar terhadap kematangan / pembentukan pribadi remaja disamping faktor hereditas (penurunan sifat genetik dari orangtua ke anak).

Oleh karena itu, untuk membentuk pribadi remaja yang baik, remaja haruslah pandai-pandai menempatkan diri. Remaja haruslah pandai menentukan dimana ia harus berada, pada siapa ia harus berteman, bagaimana harus bersikap pada lingkungan yang tidak baik, ia harus menjadi apa dan siapa, bagaimana harus berbuat. Hal ini penting karena akan memberikan gambaran tentang sosok remaja bersangkutan. Bila gagal menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas maka ia akan menjadi sosok remaja yang "tidak diinginkan". Seorang remaja yang asing baik bagi diri, lingkungan, keluarga dan Tuhannya. Ia bukan lagi menjadi dirinya, bukan menjadi apa dan siapa-siapa, bukan menjadi bagian lingkungannya dan jauh dari Tuhan. Keberadaannya tidak lagi diperhitungkan atau wujuduhu ka 'adamihi, adanya sama saja dengan tidak adanya. Selanjutnya ia akan berbuat semaunya karena merasa tidak lagi menjadi bagian dari lingkungannya. Sekalipun tindakannya merugikan dirinya sendiri, lingkungan dan keluarga. Ia menjadi manusia yang tidak memiliki sense of responsibility, cuek dan acuh tak acuh, sak karepe dewe.

Untuk menghadapi hal yang tidak diinginkan tersebut, harus ada institusi ataupun lembaga yang menampung dan mencetak remaja secara benar. Supaya masa depannya dapat memberikan kemajuan terhadap orang lain dan bangsa. Tanpa adanya pengontrol, remaja akan bertindak sesuatu yang merugikan masa depannya. Seperti, pemakai NARKOBA, melakukan seks bebas (free sex), akibatnya banyak remaja putri kehilangan masa depannya karena diketahui 'bunting' saat masih sekolah sehingga harus dikeluarkan, tayangan televisi yang mendidik bersikap hedonis, foya-foya, caci maki terhadap teman, saudara atau kepada orangtua, dan saat ini yang lagi ngetren adalah remaja sebagai 'tumbal' bom bunuh diri para teroris yang mengatasnamakan agama.

Untuk itu, pemerintah harus melakukan kontrol terhadap para remaja yang sedang mencari jati diri ini. Misal yang sudah berjalan adalah kontrol KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) terhadap tayangan televisi walaupun masih sering kecolongan. Sekarang juga perlu adanya kontrol / pengawasan terhadap aktivitas dakwah terhadap semua agama agar tidak ada lagi remaja yang direkrut untuk menjadi 'pengantin' bom bunuh diri.

;

Kamis, 08 Oktober 2009

JUALAH (Minta dikembalikannya Barang yang Hilang)

Siapa yang belum pernah kehilangan barang yang dimilikinya? Semua orang dapat dipastikan pernah kehilangan barang yang mereka miliki. Entah barang tersebut kembali lagi atau tidak. Bagi kita yang kehilangan barang, pasti khawatir, resah, bingung dimana kita meletakkan atau jatuhnya barangnya tersebut. Apalagi barang tersebut adalah barang kesayangan. Pasti sangat-sangat pusing tujuh keliling kehilangan barang yang dia cintai. Bahkan ada yang membuat pengumuman kehilangan barang.

Kebanyakan yang kita ketahui adalah berita tentang kehilangan barang daripada berita penemuan barang. Bagi yang kehilangan bagai bencana, bagi yang menemukan seakan-akan mendapat rizki dari langit sampai-sampai enggan menemukan pemiliknya ataupun mengumumkannya. Apakah ini memang sudah menjadi mental, watak manusia ? Tergantung individu masing-masing.

Dalam Hukum Islam, mengumumkan barang yang hilang untuk dikembalikan dan bagi yang menemukan diiming-imingi imbalan/upah tertentu disebut ju'alah (bisa juga dibaca ji'alah atau ja'alah) . Kalau jadul (jaman dulu) mengumumkan barang yang hilang dengan imbalan disebut sayembara. Ji'alah adalah minta dikembalikannya benda yang hilang dengan ganti tertentu. Menurut bahasa ialah barang yang dijadikan untuk seseorang atas janji sesuatu yang akan dia kerjakan. Menurut syara' ialah tindakan penetapan orang yang syah pentashorufannya tentang suatu ganti yang telah diketahui jelas atas pekerjaan yang ditentukan atau pekerjaan yang sulit bagi orang yang telah ditentukan atau lainnya.

Rukun Ji'alah ada empat, yaitu lafadz, hendaklah lafadz itu mengandung arti izin kepada orang yang akan bekerja dan tidak ditentukan waktunya, orang yang menjanjikan upah, pekerjaan dan upah. Ji'alah hukumnya boleh dengan dua ketentuan, yaitu orang yang merangsang pemberian dan yang dirangsang dengan pemberian. Dasar hukum ji'alah adalah al-Qur'an dan hadits Nabi."Dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta." (QS. Yusuf:72)

Sabda Nabi: "orang-orang mukmin tergantung dalam syarat-syarat mereka."

Di dalam ji'alah, orang yang merangsang dengan pemberian memberikan janji dalam kaitannya dengan pengembalian barangnya yang telah hilang dengan bentuk ganti yang telah diketahui jelas. Seperti ucapan "Barangsiapa yang dapat mengembalikan barangku yang hilang, maka akan saya beri upah seratus ribu.."Bila orang tersebut berhasil mengembalikan barang yang hilang itu, maka dia berhak memiliki uang seratus ribu.

(makalah saat di fak. syari'ah)

RAHN (GADAI) dalam Perspektif Hukum Islam

Seiring dengan kemajuan zaman dan makin merebaknya berbagai produk yang ada dalam masyarakat sehingga menuntut perubahan sosial secara merata karena masyarakat cenderung bersifat konsumtif. Apalagi didorong dengan berbagai iklan-iklan yang ditawarkan kepada masyarakat. Ketika hal yang demikian terjadi dengan tanpa diimbangi dengan tingkat penghasilan yang ada dalam masyarakat maka yang terjadi adalah semakin sengsaranya kehidupan yang mereka jalani. Bahkan sampai ada yang menjual rumah atau tanahnya hanya demi memenuhi kebutuhan keluarga yang terkena virus pola hidup konsumtif. Jalan lain apabila tidak ingin menjual barangnya adalah dengan cara menggadaikannya.

Gadai dalam hukum Islam disebut dengan RAHN yang berarti tetap, kekal dan jaminan. Rahn dalam hukum positif Indonesia disebut dengan barang jaminan, agunan dan rungguhan. Dalam Islam rahn merupakan sarana saling tolong menolong bagi umat Islam tanpa adanya imbalan jasa.

Definisi rahn ada beberapa definisi yang dikemukakan oleh ulama fiqh. Ulama madzhab Maliki mendefinisikan dengan "harta yang dijadikan pemiliknya sebagai jaminan hutang yang bersifat mengikat." Ulama madzhab Hanafi mendefinisikan dengan "Menjadikan sesuatu (barang) sebagai jaminan terhadap hak (piutang) yang mungkin dijadikan sebagai pembayar hak (piutang) tersebut, baik seluruhnya maupun sebagian". Ulama madzhab Syafii dan Hanbali mendefinisikan rahn dalam arti akad, "menjadikan materi (barang) sebagai jaminan utang yang dapat dijadikan pembayar utang apabila orang yang berhutang tidak dapat membayar hutangnya".Rahn ditangan murtahin (pemberi hutang, kreditor) hanya berfungsi sebagai jaminan hutang rahin (orang yang berhutang, debitor). Barang jaminan itu baru bisa dijual/dihargai apabila dalam waktu yang disetujui kedua belah pihak, hutang tidak bisa dilunasi oleh debitor. Oleh karena itu, hak kreditor hanya terkait dengan barang jaminan apabila debitor melunasi hutangnya.Ulama fiqh mengemukakan bahwa akad rahn dibolehkan dalam Islam berdasarkan al-Qur'an (QS. Al Baqoroh,2:283) dan sunah Rasulullah.

Ulama fiqh sepakat bahwa rahn bisa dilakukan dalam perjalanan dan dalam keadaan hadir ditempat asal barang jaminan tersebut bisa langsung dipegang (al-qobd) secara hukum oleh kreditor. Maksudnya, karena tidak semua barang jaminan tidak dapat dipegang/dikuasai oleh kreditor secara langsung, maka paling tidak ada semacam pegangan yang dapat menjamin bahwa barang dalam status al-marhun (barang gadai). Misalnya, apabila barang jaminan itu berbentuk sebidang tanah, maka yang dikuasai (al-qobd) adalah sertifikat tanah tersebut.

Dalam suatu riwayat dikatakan bahwa Rasulullah membeli makanan dari seorang Yahudi dengan menjadikan baju besinya sebagai barang jaminan. Menurut kesepakatan ahli fiqh, peristiwa Rasulullah merahnkan baju besinya itu adalah kasus rahn pertama dalam Islam dan dilakukan oleh Rasul sendiri.

Diawali dan diakhiri dengan Tauhid

Malam itu aku sowan ke seorang teman, guru, ustadz, kyai yang lima belas tahun lebih tua dari aku. Lho kok seorang macamnya banyak? Ya, kalau aku panggil beliau dengan sebutan kyai, beliau tidak mau. Kalau aku panggil beliau guru, beliau balik mengatakan, "Kamulah guruku.." Beliau seorang yang low profile, tidak mau diunggul-unggulkan sebagaimana kebanyakan orang yang mempunyai ilmu.

Malam itu aku sengaja menyambangi beliau agar mendapat sesuatu hal yang bermanfaat. Malam itu, disebuah gubuk surau tempat beliau biasa melakukan dzikir, kami duduk bersama ditemani secangkir kopi, dua bungkus rokok dan sebuah benda yang tampak sudah kuno. Apabila dilihat sekilas benda itu mirip al-Qur'an yang sering dibaca karena kelihatan kumal. Sebelum aku tanya mengenai benda itu sang guru menyuruhku membuka dan membaca isinya. Kupegang lalu kubuka perlahan-lahan ternyata kertasnya terbuat dari kulit binatang. Di dalamnya terdapat tulisan Arab. Tapi ketika dibaca isinya bukan bahasa Arab melainkan bahasa Jawa atau istilahnya Arab Pegon. Ketika aku baca halaman awal aku paham kalau ini adalah kitab tauhid. Mengetahui kalau itu kitab tauhid langsung aku tutup karena aku takut akan salah tafsir. Lalu aku bilang, "Ini kitab tauhid, kyai.."
Lagi-lagi beliau menjawab, "Jangan kau panggil aku seperti itu. Berat rasanya kalau membawa sebutan itu (kyai). Tidak maqomnya saya. Ya, kalau kamu buka halaman awal disitu menjelaskan masalah tauhid. Coba kamu buka halaman berikutnya..!!" Kubuka halaman berikutnya. Kubaca, kupahami, ternyata dihalaman tengah menjelaskan tentang syari'at.

"Halaman tengah menjelaskan tentang syari'at..." Kataku agak terbata-bata karena aku takut kalau sang guru menyuruhku untuk menjalankan syari'at yang benar. Sedang aku sendiri masih amburadul dalam melaksanakan syari'at dan belum tahu syari'at yang benar itu bagaimana. Karena menurutku kebenaran hanya milik Allah. Bukan milik segelintir orang.

" Lanjutkan sampai akhir.." kata sang guru sambil menyeruput kopinya.Kubaca halaman selanjutnya sampai akhir halaman. Pada halaman akhir disebutkan kembali tentang ajaran tauhid.
"Lho, kok tauhid kembali?" pikirku.
"Sudah selesai?"
"Sudah.."
"Apa yang kau ketahui?"
"Saya tidak mengetahui apa-apa kecuali sebuah pertanyaan tentang kitab ini."
"Apa?"
"Kenapa kitab ini diawali dengan membahas masalah tauhid dan diakhiri dengan membahas masalah tauhid? Dan pada halaman tengah menjelaskan tentang syari'at? Kenapa kok tidak masalah tauhid saja?" tanyaku.
"Begini, kitab ini aku peroleh dari guruku. Tidak sembarang orang bisa memahami isi kitab ini. Kitab ini bukan kitab ajaran agama baru. Tidak sembarang orang aku tunjukkan kitab ini. Kamu adalah orang yang beruntung bisa aku tunjukkan kitab ini. Kenapa isi kitab ini diawali dan diakhiri tentang tauhid dan di tengah-tengah menjelaskan tentang syari'at? Nuwun sewu, itu adalah gambaran kehidupan kita di dunia ini. Kita hidup di dunia ini seharusnya diawali dengan tauhid dan diakhiri dengan tauhid dan diantaranya kita harus menjalankan syari'at. Paham maksudnya?"
"Ketika kita lahir, sesuai dengan anjuran Rasulullah SAW kita sebaiknya dikenalkan asma Allah dengan diadzani telinga kanan kita dan diiqomati telinga kiri. Setelah baligh kita diwajibkan melaksanakan syari'at dan ketika kita dipanggil oleh Sang Maha Kuasa kita seyogyanya membawa tauhid dengan membaca lailaha illallah.." jawabku.
"Iya, begitulah seharusnya kita hidup.." jawab sang Guru sambil menghisap rokoknya...
Wallahu a'lam bisshowab..
to be continued....

Pisang Lurus

Kejadian ini aku alami waktu OSPEK 8 tahun silam.. Seperti jamaknya OSPEK, pasti sang senior memberi perintah yang aneh-aneh dan agak sulit mencarinya. Seperti, peserta OSPEK disuruh memakai topi 'besek' atau tempat takir (nasi hasil dari tahlilan atau sebangsanya), kaos kaki berlainan warna, yang kiri merah yang kanan kuning, dan perintah macam2 lainnya yang tidak ada hubungannya dengan mahasiswa yang notabene seorang idealis.

Nah, di hari pertama sang senior memerintahkan kita supaya besok membawa sebuah PISANG YANG LURUS, tidak boleh bengkok. OSPEK dihari pertama sampai jam 5 sore. Habis ospek langsung para calon2 mahasiswa termasuk aku 'blusuk-an' ke pasar mencari PISANG yang LURUS.. Teman-teman udah ada yang dapat. Aku mencari-cari pisang lurus tidak ada, adanya bengkok. Ada yang lurus, eh keduluan ama temanku. Sampai akhirnya aku TIDAK mendapatkan pisang lurus. terpaksa beli yang agak bengkok atau agak lurus.

Esok harinya, OSPEK dah mulai pukul 6 pagi.. Sang senior menyuruh calon mahasiswa untuk berkumpul di lapangan kampus. Setelah kumpul, disuruh mengeluarkan pisang dan mengangkatnya supaya sang senior bisa tahu pisang mana yang LURUS dan mana yang BENGKOK. Tentu saja, calon mahasiswa yang tidak mendapat pisang lurus dapat hukuman.disuruh keliling lapangan 10x sambil mengacung-acungkan pisang dan teriak... "PISANG SAYA BENGKOK"... "Pisang ini lurus apa nggak?" tanya sang senior kepadaku. "Lurus..!!" jawabku pede (padahal agak bengkok) "apa kamu tidak bisa membedakan benda yang lurus sama yang enggak??? Cepat keliling 10x sambil teriak2... PISANG SAYA BENGKOK..!! Cepaaattt...!!!" perintah sang senior yang nggak mau didebat. Langsung saja aku keluar barisan dan berlari keliling sambil mengucap... " PISANG SAYA BENGKOK...(aku tambahi) PISANG SAYA PANJANG..BENGKOK.."

UANG (PUISI NGAWUR)

UANG...
dengan tetesan keringat kau kucari
dengan tetesan air mata kau kucari
dengan tetesan tinta kau ku miliki
hanya agar bisa membeli...
UANG..
denganmu ku beli kebutuhan sehari-hari
denganmu ku beli
harga diri
denganmu ku beli
kursi
denganmu ku beli
cewek sekaliber Miyabi
denganmu bisa saja ku beli
orang yang siap mati
bahkan denganmu 'Tuhan' bisa ku beli
UANG...

tanpamu pusing tujuh keliling
dengan imingmu mudah berpaling
tapi UANG... tidak bisa membeli
kebenaran sejati....
Sang Ilahi...

Selasa, 06 Oktober 2009

Negeri Otot Kawat Balung Besi

Dalam pidatonya menyambut Maulid Nabi pada tahun 1963 (saya dapat dari download)Bung Karno mengatakan: "ada pantun yang bunyinya "berakit-rakit kita ke hulu, berenang-renang ke tepian" bersakit-sakit kita dahulu bersenang-senang kemudian.. Ini adalah dialektik suatu bangsa yang ingin menjadi bangsa yang besar. Kemarin aku baca Ramayana saudara-saudara..Ramayana..Di dalam kitab Ramayana itu ada disebutkan suatu negeri, namanya negeri Uttara Guru, yaitu artinya negara guru...guru itu..kurowo itu.. Uttara Guru, disebutkan dalam kitab Ramayana itu kalau di negeri Uttara Guru itu tidak ada panas yang terlalu, ndak ada dingin yang terlalu, ndak ada manis yang terlalu, ndak ada pahit yang terlalu, segalanya itu tenaang..tenang... Ora ono panas ora ono adem, tidak ada gelap, tidak ada terang yang benderang. Di dalam kitab Ramayana itu sudah dikataken..hu..(ekspresi pidato Bung Karno) negeri yang begini tidak bisa menjadi negeri yang besar.. sebab tidak ada (Bung Karno menaikkan intonasi suaranya) Up and down ..perjuangan..tidak ada.. semuanya itu adem tentrem. Seneng..seneng.. pun tidak terlalu seneng.. tidak terlalu sedih. Tenang..tenang.. Uttara Guru. Apa engkau ingin menjadi bangsa yang demikian saudara-saudara.. TIDAK!! Kita tidak ingin menjadi suatu bangsa yang demikian. Kita ingin menjadi bangsa yang setiap hari digembleng oleh keadaan, digembleng. Hampir hancur lebur, bangun kembali. Digembleng. Hampir hancur lebur, bangun kembali. Hanya dengan jalan demikianlah kita bisa menjadi suatu bangsa yang benar-benar bangsa otot kawat balung besi.."

Saat ini kita masih dalam tahap 'digembleng oleh keadaan', sebagaimana dikatakan Bung Karno dalam pidatonya tersebut. Sebelum era reformasi, pusat pemerintahan dan pengambilan keputusan hanya satu, sang Presiden. Saat itu sebenarnya kita sudah digembleng tapi gembleng yang tidak begitu membuat kita jatuh dan bangun lagi. Mungkin jatuh saja tidak bangun-bangun. Sekarang di era reformasi, negeri kita banyak gemblengan, banyak problematika yang menuntut kita untuk ikut berfikir dan menyelesaikan masalah. Ambil contoh, baru saja kita melaksanakan pemilihan legislatif dan pemilihan presiden yang pada waktu zaman Orba hal itu tidak terjadi. Kita dituntut berfikir untuk memilih wakil kita berdasarkan kapabilitas mereka atau berdasarkan materi yang telah mereka berikan kepada kita. Pasti kita punya jawaban individu, sendiri-sendiri. Kalau ternyata dalam pemilihan legislatif atau pemilihan presiden masih menimbulkan masalah, berarti kita masih jatuh dan harus bangun lagi. Dalam pemberantasan korupsi juga merupakan 'gemblengan' bagi kita apakah kita bisa memberantas korupsi yang sudah dikatakan membudaya -semoga tidak dicatat di UNESCO sebagai budaya warisan bangsa-. Kalau pemberantasan korupsi masih gagal, malah yang memberantas korupsi diberantas, kita masih jatuh. Masalah kita 'kecolongan' klaim budaya oleh negara lain itu merupakan gemblengan dan alhamdulillah, pada tanggal 2 Oktober kemarin kita 'bangun' dengan mencatatkan Batik sebagai warisan budaya bangsa Indonesia. Dan lain-lain banyak contoh 'gemblengan' di negeri ini.

Saat ini kita bangsa Indonesia tidak hanya digembleng oleh keadaan. Akan tetapi, kita digembleng oleh alam. Banyaknya bencana alam di negara ini merupakan gemblengan dari Allah kepada kita. Allah sendiri sudah mengkhabarkan kepada kita bahwa sebab adanya bencana alam merupakan ulah dari perbuatan manusia. Entah kebetulan entah tidak, saat ada geger-geger masalah Bank Century yang merugikan negara trilyunan rupiah, Allah menggembleng dengan gempa di Tasikmalaya, Jawa Barat. Baru saja ada geger-geger masalah pertikaian antara Polri dengan KPK yang diduga bermotif balas dendam. Sebab, alasan polisi menjerat pimpinan KPK adalah penyalahgunaan wewenang terhadap pencekalan koruptor. Karena alasan tersebut tidak ada unsur pidana kemudian polisi menyangka adanya suap. Padahal hal ini sudah dibantah oleh sang penyuap. Lantas entah kebetulan apa tidak, Allah menggembleng dengan gempa di Padang Sumatera Barat. Atau yang pasti kejadian alam tersebut juga sebab perbuatan kita sendiri.Saya berharap, semoga dengan adanya banyak bencana alam ini merupakan jalan bagi negara kita untuk menjadi negara yang besar. Bangsa yang berotot kawat balung besi.....

Komen Via Facebook