Tahun ini saya ingin membiarkan jenggot dan kumis saya tumbuh sendiri. Alhamdulillah, udah banyak walau pertumbuhan lebih cepat jenggot. Saya lihat wajah saya dikaca, sungguh indah kumis dan jenggot ini sebagai accesori 'cuma-cuma' dari Tuhan. Walaupun kawan-kawan saya meledek saya, "wah bisa buat kurban nih nanti..". Saya cuek saja. Ada juga yang bilang, "Udah ganti aliran to??" Saya hanya menjawab dengan mengelus-ngelus jenggot saya.
Memang ada hadist Nabi yang menyuruh umatnya membiarkan jenggot dan mencukur kumis. Perintah Nabi disini bukan sebagai kewajiban yang dalam ilmu ushul fiqih disebut al-amru lil wujub, perintah menunjukkan kewajiban. Tapi hadist ini menunjukkan kesunahan. Seandainya sabda nabi ini menunjukkan kewajiban, kasihan bagi mereka yang dagunya tidak bisa menumbuhkan jenggot atau bisa tumbuh tapi 'cuma' tiga helai. Kenapa jenggot dibiarkan tumbuh sedang kumis dicukur? Sebab, kumis adalah ciri khas umat Yahudi. Nabi ingin umat 'tampil beda' dengan khas jenggotnya sebagaimana sahabat Bilal menemukan ajakan sembahyang (sholat) dengan adzan, supaya berbeda dengan umat nasrani yang memakai lonceng.
Tetapi saya lebih suka memelihara keduanya (jenggot sama kumis). Sebab saya ingin melihat 'khas' dua umat ini ada pada wajah saya bila saya bercermin. Apalagi keduanya merupakan sunah dari dua Nabi. Nabi Muhammad SAW dan Nabi Musa AS, Nabinya umat Yahudi. Sungguh, keduanya bisa menghiasi wajah saya. Menambah 'ketampanan' wajah saya karena adanya jenggot dan kumis. Mereka kompak dan tetap pada posisi masing-masing. Tidak seperti dalam alam nyata ini, yang mana kedua umat ini tidak bisa kompak dan saling memperebutkan wilayah. Saya hanya berharap suatu saat nanti, kedua umat ini bisa hidup berdampingan dengan damai, tetap pada wilayah masing-masing. Seperti halnya jenggot dengan kumis ini. Jenggot tetap pada tempatnya, yaitu di dagu dan kumis tetap pada posisinya di atas mulut bawah hidung. Seandainya jenggot dan kumis ini 'memperebutkan' wilayah, maka kumis akan berada di dagu dan jenggot berada di bawah hidung. Tentu akan lucu dan tidak patut dilihat karena 'rambut' jenggot lebih banyak dan panjang daripada rambut kumis. Ini adalah harapan yang tidak mungkin. Nabi sendiri sudah bersabda bahwa umat Yahudi dan muslim tidak akan bisa rukun sampai kiamat nanti.
Saya sedikit bangga dengan jenggot dan kumis yang saya biarkan ini setelah saya melihat Usamah bin Laden juga memelihara jenggot dan kumisnya, bedanya beliau punya jambang. Begitu juga dengan imam Masjidil Haram, Syeckh Abdurrahman Sudais menumbuhkan jenggot dan kumis yang menghiasi wajah beliau. Begitu juga dengan Ulama Mekah (alm) Syeckh Sayyid Alawy al-Maliki Rahimahullah. Juga Habib Umar bin Hafidz. Dengan jenggot dan kumisnya, mereka tampak berwibawa dan tampak tampan. Semoga saya ndak jauh beda.. he..he...
Memang ada hadist Nabi yang menyuruh umatnya membiarkan jenggot dan mencukur kumis. Perintah Nabi disini bukan sebagai kewajiban yang dalam ilmu ushul fiqih disebut al-amru lil wujub, perintah menunjukkan kewajiban. Tapi hadist ini menunjukkan kesunahan. Seandainya sabda nabi ini menunjukkan kewajiban, kasihan bagi mereka yang dagunya tidak bisa menumbuhkan jenggot atau bisa tumbuh tapi 'cuma' tiga helai. Kenapa jenggot dibiarkan tumbuh sedang kumis dicukur? Sebab, kumis adalah ciri khas umat Yahudi. Nabi ingin umat 'tampil beda' dengan khas jenggotnya sebagaimana sahabat Bilal menemukan ajakan sembahyang (sholat) dengan adzan, supaya berbeda dengan umat nasrani yang memakai lonceng.
Tetapi saya lebih suka memelihara keduanya (jenggot sama kumis). Sebab saya ingin melihat 'khas' dua umat ini ada pada wajah saya bila saya bercermin. Apalagi keduanya merupakan sunah dari dua Nabi. Nabi Muhammad SAW dan Nabi Musa AS, Nabinya umat Yahudi. Sungguh, keduanya bisa menghiasi wajah saya. Menambah 'ketampanan' wajah saya karena adanya jenggot dan kumis. Mereka kompak dan tetap pada posisi masing-masing. Tidak seperti dalam alam nyata ini, yang mana kedua umat ini tidak bisa kompak dan saling memperebutkan wilayah. Saya hanya berharap suatu saat nanti, kedua umat ini bisa hidup berdampingan dengan damai, tetap pada wilayah masing-masing. Seperti halnya jenggot dengan kumis ini. Jenggot tetap pada tempatnya, yaitu di dagu dan kumis tetap pada posisinya di atas mulut bawah hidung. Seandainya jenggot dan kumis ini 'memperebutkan' wilayah, maka kumis akan berada di dagu dan jenggot berada di bawah hidung. Tentu akan lucu dan tidak patut dilihat karena 'rambut' jenggot lebih banyak dan panjang daripada rambut kumis. Ini adalah harapan yang tidak mungkin. Nabi sendiri sudah bersabda bahwa umat Yahudi dan muslim tidak akan bisa rukun sampai kiamat nanti.
Saya sedikit bangga dengan jenggot dan kumis yang saya biarkan ini setelah saya melihat Usamah bin Laden juga memelihara jenggot dan kumisnya, bedanya beliau punya jambang. Begitu juga dengan imam Masjidil Haram, Syeckh Abdurrahman Sudais menumbuhkan jenggot dan kumis yang menghiasi wajah beliau. Begitu juga dengan Ulama Mekah (alm) Syeckh Sayyid Alawy al-Maliki Rahimahullah. Juga Habib Umar bin Hafidz. Dengan jenggot dan kumisnya, mereka tampak berwibawa dan tampak tampan. Semoga saya ndak jauh beda.. he..he...













