'Gus' adalah istilah pesantren untuk menyebut putra seorang kyai. Ada juga yang menyebut dengan sebutan 'cak'. Jadi, kalau sudah menyebut 'kyai' jangan ditambahi dengan 'gus', seperti Kyai Gus Dur. Cukup Gus Dur atau Kyai Dur saja. Tapi di Jawa Timur, santri yang keluar memakai sarung dan peci oleh masyarakat sekitar juga dipanggil 'gus'.
Karena hidup di lingkungan pesantren, tentunya pemikiran 'gus' ini tidak lepas dari 'apa kata kitab kuning'. Bila ada permasalahan keagamaan akan mencari dalil (ta'bir) di kitab-kitab kuning. Sehingga pemikirannya masih terkotak dalam lingkup kitab kuning. Kebanyakan, 'gus' ini akan meneruskan 'tahta' ayahnya yang seorang 'kyai', sebagai pengayom umat. Tapi, pandangan ini agak bergeser seiring perkembangan zaman bahwa 'gus' tidak harus mengganti bapaknya untuk memangku pondok pesantren ataupun pemikirannya hanya sebatas kitab kuning. Terlihat sekarang dengan adanya 'gus' yang berkecimpung dalam dunia politik, ada juga 'gus' yang menjadi dokter, ada yang menjadi dosen, ada yang sukses berbisnis, ada 'gus' sebagai musisi, dan ada 'gus' yang menjadi presiden dan itu pun masih satu orang, yaitu Gus Dur.
Pada hari Rabu 29/12/09, pukul 18.45 WIB, Indonesia telah kehilangan seorang mantan Presiden yang 'gus' itu. Kepergiannya meninggalkan banyak kenangan, pemikiran, bahkan banyolan. Dalam status di Facebook saya menulis "KAMI TELAH KEHILANGAN SEORANG GURU,KYAI,PIMPINAN, YANG SANGAT KAMI SAYANGI..KH.ABDURAHMAN WAHID PETANG INI.." saya menggunakan kata "KAMI" bukan "KITA". karena saya pikir masih ada orang yang saat ini tidak suka pada Gus Dur entah dengan alasan apa. Selain itu, ada orang yang simpatik kepada beliau. Orang yang simpatik pada Gus Dur ini ada 2, yaitu Gus Dur-ian (orang yang simpatik terhadap sosok Beliau) dan Gus Dur-isme (orang yang simpatik terhadap pemikiran-pemikiran beliau).
Akhir kata, sebagai manusia biasa Gus Dur pasti punya kesalahan. Semoga Allah Subhanahu wata'ala mengampuni dosa-dosa beliau dan beliau ditempatkan di sisiNya. Amin..
Karena hidup di lingkungan pesantren, tentunya pemikiran 'gus' ini tidak lepas dari 'apa kata kitab kuning'. Bila ada permasalahan keagamaan akan mencari dalil (ta'bir) di kitab-kitab kuning. Sehingga pemikirannya masih terkotak dalam lingkup kitab kuning. Kebanyakan, 'gus' ini akan meneruskan 'tahta' ayahnya yang seorang 'kyai', sebagai pengayom umat. Tapi, pandangan ini agak bergeser seiring perkembangan zaman bahwa 'gus' tidak harus mengganti bapaknya untuk memangku pondok pesantren ataupun pemikirannya hanya sebatas kitab kuning. Terlihat sekarang dengan adanya 'gus' yang berkecimpung dalam dunia politik, ada juga 'gus' yang menjadi dokter, ada yang menjadi dosen, ada yang sukses berbisnis, ada 'gus' sebagai musisi, dan ada 'gus' yang menjadi presiden dan itu pun masih satu orang, yaitu Gus Dur.
Pada hari Rabu 29/12/09, pukul 18.45 WIB, Indonesia telah kehilangan seorang mantan Presiden yang 'gus' itu. Kepergiannya meninggalkan banyak kenangan, pemikiran, bahkan banyolan. Dalam status di Facebook saya menulis "KAMI TELAH KEHILANGAN SEORANG GURU,KYAI,PIMPINAN, YANG SANGAT KAMI SAYANGI..KH.ABDURAHMAN WAHID PETANG INI.." saya menggunakan kata "KAMI" bukan "KITA". karena saya pikir masih ada orang yang saat ini tidak suka pada Gus Dur entah dengan alasan apa. Selain itu, ada orang yang simpatik kepada beliau. Orang yang simpatik pada Gus Dur ini ada 2, yaitu Gus Dur-ian (orang yang simpatik terhadap sosok Beliau) dan Gus Dur-isme (orang yang simpatik terhadap pemikiran-pemikiran beliau).
Akhir kata, sebagai manusia biasa Gus Dur pasti punya kesalahan. Semoga Allah Subhanahu wata'ala mengampuni dosa-dosa beliau dan beliau ditempatkan di sisiNya. Amin..













