Waktu Lebaran

Habis sholat Idhul Fitri berpose dulu di rumah..

Di Kudus

Mau beli jajanan khas Kudus eh ada museum rumah adatnya..numpang foto..

Di Jogja

Beli blangkon khas Jogja.. Coba dulu baru beli..

Pelatihan Khatib dan Da'i Muda

untuk mengembangkan bakat da'i muda dan mencetak khatib handal...

Mina 2005

Waktu di Mina ama bapak

Candi Cetho Karanganyar

Touring ke candi Cetho, Karanganyar.. kalo kesini lebih baik pake motor, jangan mobil. soalnya jalannya nanjak banget..

Selasa, 26 Januari 2010

Jangan Mencela bila (masih) memakai Produk Mereka

Pasti kita para Facebooker sudah mengetahui dan yakin haqqul yaqin bahwa penemu Facebook bukanlah seorang muslim (Kalau penemunya muslim mungkin akan dinamakan ‘kitabul wajhi’). Ya, penemu Facebook adalah Mark Zuckerberg seorang keturunan Yahudi. Nah, lho?? Apa masalahnya? Sebenarnya saya tidak mempermasalahkan beragama atau tidaknya seseorang. Sebab, beriman atau tidak itu hak prerogatif Allah, Tuhan Yang Esa. Apalagi dalam surat Al-Baqoroh Allah berfirman, Khotamallahu ‘ala qulubihim, wa ‘ala sam’ihim, Allah telah menutup hati dan pendengaran mereka (orang-orang kafir). Kalau Allah menghendaki membuka hati, pasti akan dibuka hatinya, tapi kalau Allah menghendaki hatinya tertutup akan tertutup pula walaupun kita dengan susah payah mengajaknya untuk masuk agama kita.

Yang membuat bibir saya tersenyum adalah adanya orang-orang yang benci Yahudi tapi menggunakan fasilitasnya orang Yahudi, yaitu facebook. Ibaratnya saya makan di warung makan milik musuh saya yang selalu saya jelek-jelekkan. Juga saya pernah mendengar seorang ustadz yang ceramah. Dalam ceramahnya itu sang ustadz menjelek-jelekkan Amerika dan melarang umat Islam memakai atau memakan produk Amerika dan antek-anteknya. Tapi, setelah pengajian selesai saya mendekati sang ustadz dan mengucapkan salam kepada beliau kemudia menyalaminya. Kemudian saya mengikuti beliau sampai naik mobil. Lho, katanya tidak boleh memakai produk orang kafir atau Amerika dan antek-anteknya. Kenapa sang ustadz memakai mobil made in Japan yang beragama Shinto atau penyembah matahari atau dalam Islam disebut orang Majusi?

Mungkin bisa saja orang yang membenci seseorang itu ‘memanfaatkan’ ciptaannya untuk menyerang penciptanya. Dalam hal ini, memanfaatkan Facebook untuk menjelek-jelekkan keyakinan sang penemu Facebook. Kalau saya, mendingan menggunakan fasilitas produk tanpa menjelek-jelekkan. Nanti kalau saya sudah bisa menemukan ‘produk’ sendiri, baru saya bisa ‘sombong’ dengan menjelek-jelekkan orang yang saya benci. Intinya, selama masih ‘menumpang’ saya akan menghormati yang ditumpangi dan menghormati harga diri saya sendiri.
Wallahu a’lam bisshowab

Kamis, 21 Januari 2010

Aksi Masyarakat sebagai Pertimbangan Hukum

Lagi, hukum di Indonesia mencederai rakyat lemah. Adalah Lanjar Sriyanto yang menjadi korban ketidakadilan hukum. Ia dikenai pasal 359 KUHP, yakni kelalaian yang menyebabkan kematian pengguna jalan. Pasalnya, ia bersama anak dan istrinya sedang mengendarai sepeda motor. Tiba-tiba mobil didepannya mengerem mendadak dan motor Lanjar menyenggol mobil di depannya itu. Kemudian motor Lanjar oleng dan belok ke kanan. Namun tanpa disangka dari arah berlawanan muncul mobil yang dikemudikan oleh Andi Widodo yang merupakan anggota kepolisian Ngawi, menghantam motor Lanjar yang menyebabkan istrinya tewas. Yang menjadi kontroversi adalah yang ditahan atas kasus ini adalah Lanjar sekarang penahanannya ditangguhkan, sedang Andi Widodo tidak tersentuh. Saya jadi teringat anekdot bahwa UUKepolisian telah direvisi. Pasal pertama, polisi tidak pernah bersalah. Pasal kedua, apabila polisi bersalah kembali ke pasal pertama.

Sebelumnya hukum menjerat mbah Minah yang didakwa mencuri Kakao. Di Kediri, mencuri buah semangka juga diseret dipengadilan. Dan masih banyak lagi kasus hokum ‘kelas teri’ yang sampai ke pengadilan.

Hukum memang tidak jelas. Seperti halnya definisi hukum itu sendiri. Sebab para pakar hukum mempunyai definisi sendiri-sendiri tentang pengertian dari hukum. Tak heran kalau sekarang Prof. Dr. Satjipto Raharjo mengatakan bahwa hukum di Indonesia sedang sakit.

Rasa keadilan hukum itulah yang belum terwujud. Lihat saja, mbah Minah yang mencuri Kakao diganjar hukuman 1,5 bulan penjara sedang orang yang mencuri semangka dipidana 5 bulan penjara. Bandingkan bila semangka tersebut dinominalkan sehingga mencapai ratusan juta rupiah seperti uang yang dimaling oleh para pejabat. Apakah sebanding dengan hukuman koruptor yang paling-paling dihukum 4-7 tahun penjara.

Kalau kita bicara keadilan tidak lepas dari kontrol masyarakat. Masyarakat sekarang sudah ‘melek’ hukum dan politik. Untuk itu, pengadilan dalam memenuhi rasa keadilan tidak boleh lupa akan peran masyarakat. Hukum harus buta dan tuli, tapi para penegak hukum tidak boleh buta dan tuli. Peran masyarakat ini dalam bentuk ‘aksi’ entah melalui media elektronik atau dengan melakukan aksi solidaritas. Sebagaimana contoh dalam kasus Bibit dan Chandra Hamzah. Masyarakat membuat grup di facebook. Disisi lain ada grup yang mendukung kepolisian dalam kasus Bibit –Chandra ini. Tapi, setelah dilihat dari anggotanya, Grup yang mendukung Bibit-Chandra yang dalam namanya menargetkan sejuta, anggotanya lebih dari 1,4 juta. Sedang grup kepolisian yang memakai kata (semula) satu trilyun, anggotanya 600ribu saja tidak ada. Dalam kasus ini masyarakat melihat Bibit-Chandra diperlakukan hokum secara tidak adil. Begitu juga dalam bentuk aksi solidaritas koin untuk Prita. Dana yang terkumpul dari masyarakat melebihi ‘denda’ yang diminta oleh pihak rumah sakit.

Mungkin, untuk kedepann aksi-aksi seperti ini bisa menjadi pertimbangan pengadilan dalam memutuskan perkara. Sebab saya percaya bahwa rakyat Indonesia lebih banyak memakai nuraninya daripada yang menggadaikan hati nuraninya.

Cari Bibit Unggul

“Maksudnya, saya menikahi anak raja?” tanyaku karena tidak paham dengan yang dikatakan kyai.

“Hmm..Maksudnya cari istri yang bisa melahirkan anak raja itu kamu mencari istri yang punya ‘bibit unggul’. Ndak paham lagi maksudnya?” Tanya kyai.

“Cari istri yang ‘cerdas’…” kataku pelan, takut pemahamanku keliru.

“Ya. Itu.. Soalnya ada penelitian ilmiah yang mengatakan kecerdasan anak itu menurun dari ‘gen’ ibunya…” terang kyai.

“Kalau nggak percaya kamu bisa cari dan baca artikelnya di internet.. kamu kan biasa ngenet..” lanjut kyai. Memang kyai saya ini juga mengikuti perkembangan teknologi, beliau juga sering browsing internet mencari-cari artikel. Tapi, ketika saya tanya apa punya facebook beliau menjawab nggak perlu, menghabiskan waktu.

“Kecerdasan itu ada tiga, kamu boleh memilih salah satu atau syukur bisa mendapatkan ketiga-tiganya.” Jelas kyai.

“Pertama, kecerdasan intelektual. Dia tidak saptek

“Gaptek, yai..” kataku membetulkan.

“Ya, gaplek..eh gaptek (gagap teknologi)..”

“Kedua, kecerdasan emosional. Dia cekatan dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah. Sabar, pandai bersosialisasi terhadap masyarakat dan punya kepekaan terhadap lingkungan.” Jelas kyai. Kemudian kyai menyulutkan rokoknya yang mati karena lama tidak disedot.

“Saya jadi teringat film India yang dibintangi Aamir Khan…” Kataku.

“Film apa?” Tanya kyai.

“Ghajini, dalam film tersebut ada seorang cewek yang menjadi model majalah mencintai Amir Khan yang jadi bos perusahaan telepon seluler. Tapi si cewek tidak tahu kalau pacarnya adalah seorang bos, tahunya hanya pengangguran yang sedang mencari pekerjaan. Yang membuat Aamir Khan jatuh hati pada si cewek karena dia mempunyai kepedulian sosial yang tinggi. Misalnya, ada orang buta yang akan menyeberang jalan, dia tuntun. Pada waktu malam hari ada gelandangan yang tidur kedinginan, dia selimutin. Sampai akhirnya dia tewas karena menyelamatkan anak-anak cewek dibawah umur yang diperjualbelikan.” Kataku dengan nada rendah.

“Itu termasuk kecerdasan emosional, respon terhadap nasib orang yang kurang beruntung..” sambung kyai.

“Itu yang kedua. Yang ketiga…” kata kyai.

“Hai, jack..ternyata ente disini.. Tak cari ke rumah ente, ente gak ada..” tiba-tiba datang gus Azim, putra kyai yang kata orang-orang, dia khoriqul ‘adah, tingkah lakunya tidak sesuai adat kebanyakan orang alias mempunyai ilmu ‘wali’. Dia kalau memanggil sahabatnya dengan sebutan “jack”, supaya akrab katanya. Umurnya dibawah saya 2 tahun.

Kemudian saya menyalami beliau.

“ Gus..bentar..” kataku dengan tangan masih menyalami tangannya. Kemudian saya mendekatkan hidung saya ke mulutnya.

“Topi Miring, gus….” Kataku menebak.

“Tau aja ente.. Barusan orang-orang perempatan pada nantang minum. Eh, baru habis 3 botol udah pada mabuk mereka. Gue habis 4 botol.. eh besok ente gue ajak ‘muter-muter’ ya..”

“Insya Allah, gus..”

“Oke, gue mau piss (pipis=kencing) dulu sekalian mandi..” kata gus Azim sambil berlalu.

Kata khodimnya, gus Azim kalau habis minum-minum pasti selalu menuju ke kamar mandi. Setelah gus Azim keluar, khodimnya membersihkan kamar mandi yang sudah berbau minuman keras. Saya sering menyaksikan dia minum-minum tapi belum pernah melihatnya minum sampai mabuk, bahkan minum sampai 4 botol sekalipun dia tetap kuat dan sadar. Saya juga sering mengantarnya main kartu alias judi, tapi belum pernah melihat dia kalah. Selalu menang dan uang hasil judi langsung disebar ke jalanan yang banyak pengemis atau anak-anak jalanan. Wallahu a’lam

“Ehm, sampai mana tadi?” kata kyai.

“Yang ketiga, yai..”

“Yang ketiga adalah kecerdasan spiritual. Dia taat beribadah, dzikir, takut pada Allah, Tuhan Yang Esa dimanapun berada dan mengingatkan suami bila lalai dalam menjalankan ibadah.” Jelas kyai.

“Saya harus memilih yang mana, yai?”

“Terserah kamu. Kalau bisa ya dapat ketiga-tiganya, intelektual, emosional, spiritual..”

“Semoga….” Kataku penuh harap.

Jam ditanganku sudah menunjukkan pukul 17.10 Wib. Saatnya aku pamit pulang.

“Saya pamit dulu, yai. Sudah petang. Insya Allah kalau ada waktu saya kesini lagi.”

“Ya..ya..ingat pesan-pesanku tadi, ya.”

“Insya Allah, Yai..”

“Eh, dihabiskan minumannya” kata kyai menyuruhku menghabiskan minuman. Padahal minumanku sudah habis dari tadi.

“Ehm, sudah habis yai…”

Selasa, 19 Januari 2010

Mensikapi Kemarahan Istri

“Sampean, siapa namanya? Lupa saya..” Tanya sang kyai kepada tamunya.

“Kholid, yai..” jawab tamu yang ternyata bernama pak Kholid.

“Oya..ya..pak Kholid penjual sayur-sayuran di pasar Mangu itu to?” lanjut kyai. Pak Kholid hanya menganggukkan kepala.

“Ada perlu apa sampean kemari?” Tanya kyai.

“Begini, yai. Saya itu lagi sumpek, kadang merasa ndak betah dirumah gara-gara istri saya sering marah-marah, ngomel padahal saya hanya melakukan kesalahan kecil. Saya sering juga meladeni kemarahan istri saya. Sebagai lelaki saya ya tidak terima dimarah-marahin terus. Kadang saya sampai akan mengucapkan kata-kata talaq kepada istri saya saking jengkelnya.. Tapi kalau ingat masa lalu, saya sungguh masih mencintainya. Tapi, kalau setiap hari bertengkar begini, saya tidak betah juga, yai..” Jelas pak Kholid dengan mimik wajah menampakkan kejengkelannya dan kegelisahannya.

Kemudian ada khodim kyai (santri yang membantu di rumah kyai) yang membawakan segelas teh hangat ke pak Kholid. Pak kyai kemudian mempersilahkan pak Kholid untuk meminum minuman yang baru saja disuguhkan. Saya pun ikut minum minuman saya yang tinggal beberapa mili sebab sudah satu jam lebih saya ngobrol dengan kyai.

“Oo, jadi itu masalahmu.. Hampir rata-rata manusia yang berumah tangga itu pasti ada cekcok, ada pertentangan yang membikin pertengkaran. Termasuk saya juga. Ha..ha..” kata sang kyai dengan tawa khasnya yang mengingatkan saya kepada almarhum mbah Surip.

Saya pun hanya tersenyum mendengar penjelasan sang kyai karena belum pernah merasakan. Kalau pacaran sih, juga ada pertengkaran. Tapi kalau rumah tangga, saya belum merasakannya.

“Kalau istri sampean sedang marah-marah, jengkel pada sampean jangan sampean ladeni dengan kata-kata juga. Jangan sampean ladeni kemarahannya dengan kemarahan. Tapi ladeni dengan ‘diam’. Diam bukan berarti takut, tapi mengalah. Sayyidina Umar ibn Khottob bila kena ‘semprot’ kemarahan sang istri beliau selalu diam. Kenapa? Ha..” Kata sang kyai sambil melirik pada saya mengisyaratkan agar saya juga tahu masalah ini agar apabila nanti dalam berumah tangga saya juga bisa mensikapi hal tersebut dengan baik.

“Sebab.. Istri kita itu sibuk mengurusi urusan rumah. Apa pekerjaan istri dirumah?” kata kyai seakan-akan memberi pertanyaan padahal yang ditanya tidak perlu menjawab.

“Tugas istri di rumah itu ya, umbah-umbah (mencuci baju), isah-isah (mencuci piring), ngedusi bocah (memandikan anak), nyapu omah, dan mlumah.. ha..ha.(maaf, artinya cari sendiri). saking banyaknya pekerjaan rumah itu, istri juga merasa jenuh, salah satu pelampiasan adalah kepada suami. Karena pelampiasan kejenuhan ya jangan diladeni.”

Kemudian kyai berbicara setengah berbisik, “Saya, kalau istri marah juga saya diamkan. Kalau pas marah dan disitu ada anak saya, saya pergi begitu saja menghindar dari kemarahan. Tapi pelampiasan selanjutnya ke anak saya… ha..ha.. “

Pak Kholid dan saya tersenyum mendengar penjelasan sang kyai yang terakhir ini.

**********

“Saya kira cukup, kyai sowan saya ke panjenengan… Terimakasih banyak atas nasehat-nasehat panjenengan.” Pak Kholid pamit setelah dirasa cukup.

“ya..ya.. sama-sama. Mohon maaf kalau kata-kata saya ada yang kurang berkenan..” jawab kyai.
Pareng, Assalamu’alaikum..”
“Wa’alaikumsalam..”

Setelah pak Kholid pergi, kyai melanjutkan percakapan dengan saya yang terputus dengan kehadiran pak Kholid.

“Begini, le.. Satu lagi yang ingin saya pesankan kepada kamu.” Kata kyai.

“Apa, yai?” jawab saya penasaran.

“Kalau kamu mencari calon istri carilah istri sing iso nglahirke anak rojo (yang bisa melahirkan anak raja).” Pesan kyai.

Saya terdiam sejenak memikirkan maksud yang beliau katakan.

Senin, 18 Januari 2010

Kriteria Pendamping Hidup

“Ada 4 kriteria dalam memilih calon istri sebagaimana yang disabdakan oleh baginda Nabi Muhammad SAW. Tapi, saya menambahi satu lagi. Jadi, ada lima..” terang sang kyai sambil menyedot rokoknya.

“Yang satu apa, kyai?” tanyaku penasaran.

“Yang pertama apa?” sang kyai melempar pertanyaan.

“Cantiknya..” jawabku sekenanya karena tidak hapal urut-urutannya.

“Ah..kamu itu..kok langsung bilang cantiknya. Ya udah ndak papa. Trus?”

“Hartanya, nasabnya, dan agamanya..” jawabku langsung karena tidak sabar menanti jawaban sang kyai tentang kriteria yang kelima.

“Iya..betul. Trus kalau kamu sudah mendapatkan calon istri sesuai salah satu kriteria itu yang kelima adalah mau apa tidak dia sama kamu…ha..ha..” jawab sang kyai menjelaskan kriteria yang kelima.
“Oalah, kalau itu ya jelas to, yai.” Kataku dengan agak kecewa.

“Eh itu, telo godhognya disambi, dimakan.” Kata kyai menawarkan ketela rebusnya yang masih hangat.

“Tapi, yang penting agamanya ya, yai?” tanyaku sambil mengambil ketela rebus kemudian memakannya.

“Kita tidak mungkin bisa mendapatkan 4 kriteria ini. Udah cantik, keturunan orang baik, kaya, agamanya, akhlaknya hebat, jangan kau mengharap dapat semuanya. Harus ada yang dikalahkan. Tapi, yang tidak boleh dikalahkan adalah agamanya, akhlak dari si perempuan itu.” Terang sang kyai.

“Lha, terus kriteria yang tidak bisa kamu kalahkan setelah agama, apa?” lanjut sang kyai memberi pertanyaan kepadaku.

“Cantiknya, kyai..” kataku .

“Hmm… ya..ya.. Agamanya bagus, cantik pula.. Kalau kriteria kaya bisa kamu kalahkan kenapa? Kenapa nggak mencari calon istri yang kaya, sudah mapan supaya hidupmu bisa berubah tidak nelongso terus kayak gini?” kata sang kyai.

“Kalau masalah materi, sebagai laki-laki saya siap menanggung nafkahnya, yai. Walau harus banting tulang peras keringat seperti sekarang ini. Yang penting agamanya bagus pasti akan qona’ah, menerima hasil jerih payah suami.” Jawabku.

“Lha kalau nasabnya? Tidak penting?”

“Ya kalau ada ya Alhamdulillah, yai. Kalau tidak ada, kan basic agamanya sudah bagus. Soalnya menurut saya kalau nasabnya bagus belum tentu dia berakhlak baik.” Jawabku ‘agak’ ngawur.

“Yang penting kamu jangan sampai tidak mendapatkan salah satu dari 4 kriteria ini.. Udah jelek, nasab tidak bagus, melarat, akhlak jeblok pula.." pesan sang kyai kepadaku.

"Ya, yai.."

"Perempuan yang kemarin, sudah kamu putus, katanya kamu tidak cocok, trus sekarang siapa yang kamu pilih?” Tanya sang kyai kepadaku.

“Assalamu’alaikum, Yai…”

“Wa’alaikumsalam..” jawab kami berdua, ternyata ada tamu yang ingin ketemu kyai. Orangnya memakai pakaian batik tanpa peci di kepala. Kalau melihat wajahnya dia berumur kira-kira 35 tahunan.

Monggo pinarak..” sambut sang kyai.

Saya menyalami tamu dan kembali duduk.

“Sebentar ya, le.” kata sang kyai kepadaku memberi isyarat untuk tidak melanjutkan obrolan tadi supaya sang kyai menjamu tamu yang baru datang.

Sabtu, 16 Januari 2010

Obrolan Rebonding

Seperti biasa, sepulang kerja saya sempatkan sowan ke kyai saya yang belum begitu sepuh dalam umur tapi sudah sepuh masalah ilmu. Sampai di tempat beliau saya langsung menuju gubug tempat beliau istirahat sambil muthola’ah beberapa kitab. Bukan hanya kitab-kitab kuning, tapi saya lihat beliau juga membaca ‘kitab-kitab putih’ alias buku kontemporer. Melihat saya yang baru datang beliau langsung mempersilahkan, “sini, duduk sini dekat saya”

Saya meletakkan tas dan duduk disamping beliau. Tak lupa saya mengeluarkan sesuatu dari kantong saya, sebungkus rokok untuk beliau.

Setelah menanyakan kabar hari ini, beliau menyodorkan sebuah koran terbitan lokal. “Ini, kamu sudah baca berita hari ini?”

Saya mengernyitkan dahi sambil mengambil koran yang beliau sodorkan. “Berita yang mana, kyai?” tanyaku karena memang belum membaca Koran dari tadi pagi. Lagian, berita di Koran banyak macamnya.

“Itu, kok bahtsul masail di pondok Lirboyo oleh FMP3 se-Jawa Timur mengharamkan rebonding.”

Saya diam sejenak membaca berita lengkapnya. Sedang kyai saya yang memang ‘agak’ nyeleneh membuka bungkus rokok yang saya bawa kemudian menyalakan api dan menghisapnya.

“Oo..iya..kok bisa gitu? Seharusnya kan bukan rebondingnya yang haram, kyai..” kataku memberi komentar tentang isi koran yang telah saya baca.

“Iya, kalo kita menengok ke hukum asal, rebonding itu boleh. Bisa dikatakan haram, karena itu li ghoirihi bukan li dzatihi. Haram karena ada unsur lain, bukan karena haram asalnya. Sebagaimana kita memakai celak, itu ada hadistnya boleh. Tapi kalau kita memakai celak supaya tambah cakep ntar agar bisa menggaet cewek, lha itu kan juga jadi haram tho..? haramnya bukan karena memakai celaknya tapi karena perbuatan menggaet cewek dan niat yang nggak bener itu..” terang sang kyai.

“Iya, saya kok nggumun, kenapa bahtsul masail FMP3 se-Jawa Timur menimbulkan kontroversi. Kalau sebelumnya menghukumi facebook haram, padahal saya seorang yang maniak facebook, kyai.”

“Ya, meneketehe…” jawab sang kyai dengan candaan gaulnya.

“Namanya aja ijtihad, kan nggak apa-apa. Keputusan ijtihad itu tidak akan menghasilkan dosa. Kalau benar dapat dua pahala, sebaliknya kalau hasil ijtihadnya keliru mendapat satu pahala..”

leres (benar), kyai..”

“Oya, sekarang gimana hubunganmu dengan yang itu?? Jadi nggak??”

Obrolan saya dengan sang kyai masih berlanjut, tapi bukan membahas masalah keagamaan. Sang kyai menanyakan hal yang bersifat pribadi kepada saya. (off the record) Wassalam….

Komen Via Facebook