Pasti kita para Facebooker sudah mengetahui dan yakin haqqul yaqin bahwa penemu Facebook bukanlah seorang muslim (Kalau penemunya muslim mungkin akan dinamakan ‘kitabul wajhi’). Ya, penemu Facebook adalah Mark Zuckerberg seorang keturunan Yahudi. Nah, lho?? Apa masalahnya? Sebenarnya saya tidak mempermasalahkan beragama atau tidaknya seseorang. Sebab, beriman atau tidak itu hak prerogatif Allah, Tuhan Yang Esa. Apalagi dalam surat Al-Baqoroh Allah berfirman, Khotamallahu ‘ala qulubihim, wa ‘ala sam’ihim, Allah telah menutup hati dan pendengaran mereka (orang-orang kafir). Kalau Allah menghendaki membuka hati, pasti akan dibuka hatinya, tapi kalau Allah menghendaki hatinya tertutup akan tertutup pula walaupun kita dengan susah payah mengajaknya untuk masuk agama kita.
Yang membuat bibir saya tersenyum adalah adanya orang-orang yang benci Yahudi tapi menggunakan fasilitasnya orang Yahudi, yaitu facebook. Ibaratnya saya makan di warung makan milik musuh saya yang selalu saya jelek-jelekkan. Juga saya pernah mendengar seorang ustadz yang ceramah. Dalam ceramahnya itu sang ustadz menjelek-jelekkan Amerika dan melarang umat Islam memakai atau memakan produk Amerika dan antek-anteknya. Tapi, setelah pengajian selesai saya mendekati sang ustadz dan mengucapkan salam kepada beliau kemudia menyalaminya. Kemudian saya mengikuti beliau sampai naik mobil. Lho, katanya tidak boleh memakai produk orang kafir atau Amerika dan antek-anteknya. Kenapa sang ustadz memakai mobil made in Japan yang beragama Shinto atau penyembah matahari atau dalam Islam disebut orang Majusi?
Mungkin bisa saja orang yang membenci seseorang itu ‘memanfaatkan’ ciptaannya untuk menyerang penciptanya. Dalam hal ini, memanfaatkan Facebook untuk menjelek-jelekkan keyakinan sang penemu Facebook. Kalau saya, mendingan menggunakan fasilitas produk tanpa menjelek-jelekkan. Nanti kalau saya sudah bisa menemukan ‘produk’ sendiri, baru saya bisa ‘sombong’ dengan menjelek-jelekkan orang yang saya benci. Intinya, selama masih ‘menumpang’ saya akan menghormati yang ditumpangi dan menghormati harga diri saya sendiri.
Wallahu a’lam bisshowab
Yang membuat bibir saya tersenyum adalah adanya orang-orang yang benci Yahudi tapi menggunakan fasilitasnya orang Yahudi, yaitu facebook. Ibaratnya saya makan di warung makan milik musuh saya yang selalu saya jelek-jelekkan. Juga saya pernah mendengar seorang ustadz yang ceramah. Dalam ceramahnya itu sang ustadz menjelek-jelekkan Amerika dan melarang umat Islam memakai atau memakan produk Amerika dan antek-anteknya. Tapi, setelah pengajian selesai saya mendekati sang ustadz dan mengucapkan salam kepada beliau kemudia menyalaminya. Kemudian saya mengikuti beliau sampai naik mobil. Lho, katanya tidak boleh memakai produk orang kafir atau Amerika dan antek-anteknya. Kenapa sang ustadz memakai mobil made in Japan yang beragama Shinto atau penyembah matahari atau dalam Islam disebut orang Majusi?
Mungkin bisa saja orang yang membenci seseorang itu ‘memanfaatkan’ ciptaannya untuk menyerang penciptanya. Dalam hal ini, memanfaatkan Facebook untuk menjelek-jelekkan keyakinan sang penemu Facebook. Kalau saya, mendingan menggunakan fasilitas produk tanpa menjelek-jelekkan. Nanti kalau saya sudah bisa menemukan ‘produk’ sendiri, baru saya bisa ‘sombong’ dengan menjelek-jelekkan orang yang saya benci. Intinya, selama masih ‘menumpang’ saya akan menghormati yang ditumpangi dan menghormati harga diri saya sendiri.
Wallahu a’lam bisshowab













