
Dewasa ini kehadiran agama semakin dituntut agar ikut aktif terlibat di dalam memecahkan masalah yang dihadapi umat manusia. Agama tidak boleh hanya sekedar menjadi lambang kesalehan, melainkan secara konseptual menunjukkan cara-cara yang paling efektif dalam memecahkan masalah.
Tuntutan terhadap agama ini dapat dijawab manakala pemahaman agama kita tidak hanya menggunakan pendekatan teologis semata, namun harus menggunakan pendekatan lainnya. Seperti pendekatan budaya.
Kita pasti sepakat bahwa Islam adalah sebuah agama yang diturunkan dari langit (samawy). Tapi kalau saya mengatakan Islam adalah agama yang terbentuk dari budaya pasti ada yang tidak sepakat.
Kata ‘agama’ berasal dari bahasa Sanskrit tersusun dari dua kata ‘a’ dan ‘gam’. ‘A’ berarti tidak dan ‘gam’ berarti pergi. Jadi, agama itu tidak pergi, tetap ditempat, diwarisi turun temurun. Artinya agama yang ada pada kita itu merupakan ‘warisan’ dari orang tua kita. Orang tua Islam, anak ikut Islam. Orang tua Kristen, anak juga ikut menganut agama Kristen. Jika kita beragama sebab hasil dari pencarian sebagaimana kisah Nabi Ibrahim As, maka nantinya pun kita akan mewariskan agama kita ke anak-anak kita. Agama tidak pergi. Begitu juga semenjak zaman Nabi Adam hingga sekarang agama tidak pergi. Agama tetap mengajarkan ketauhidan menuju ‘realitas tertinggi’ yaitu Tuhan Yang Maha Esa umat Islam menyebut-Nya dengan sebutan Allah.
Sedangkan budaya atau kebudayaan dalam istilah antropologi disebut kultur (culture) yang berasal dari bahasa Latin cultura yang berarti memelihara, mengerjakan, atau mengolah adalah semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan (material culture) yang diperlukan oleh manusia untuk menguasai alam sekitarnya, agar kekuatan serta hasilnya dapat diabdikan untuk keperluan masyarakat. Ernst Cassirer membagi kebudayaan menjadi lima aspek : 1. Kehidupan Spritual 2. Bahasa dan Kesustraan 3. Kesenian 4. Sejarah 5. Ilmu Pengetahuan.
Lantas apakah ada relasi antara agama dan budaya? Almarhum Nur Cholis Madjid mengatakan bahwa agama dan budaya adalah dua bidang yang dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan. Jadi, agama dan budaya ibarat sisi mata uang, tidak dapat dipisahan. Kita tidak bisa menyebut agama dan mengesampingkan budaya atau sebaliknya kita bicara budaya dan mengesampingkan agama.
Sebelum saya membahas tentang relasi agama dengan budaya, saya mempertanyakan apakah manusia perlu menjaga kebudayaan? Atau kebudayaan perlu dimusnahkan sama sekali bila bertentangan dengan ajaran agama tertentu?
Jeffrey lang pernah memberikan analisis tentang pertentangan antara agama dengan budaya yang sejak dulu sudah terjadi, Yahudi memilih menutup diri dengan budaya, mereka menolak bentuk pencampuran antara budaya dengan agama, sehingga dalam praktik ibadahnya banyak ditemui hal-hal yang seolah-olah melawan arus budaya seperti seorang rabi yang memberikan fatwa tentang haramnya menggunakan lift, atau aturan-aturan lain yang bisa dipandang sebagai penolakan terhadap budaya, sehingga yahudi nyaris tidak mengalami perkembangan secara kuantitas tetapi tetap terjaga secara kualitas. Nasrani memilih menerima pencampuran antara budaya dengan agama, dalam praktik peribadatan banyak sekali unsur-unsur budaya yang digunakan seperti penerjemahan kitab suci ke berbagai bahasa, dsb.
Bagaimana dengan Islam?
Sebelum Islam turun yang berarti Nabi Muhammad belum diutus oleh Allah, masyarakat Arab ada waktu itu sudah memiliki budaya sendiri. Misal, masyarakat jahiliyah suka dengan syair-syair atau sastra yang indah. Kemudian Islam datang dengan kitab sucinya yang mempunyai kualitas sastra yang tidak bisa ada yang menandingi keindahannya. Masyarakat jahiliyah memiliki tradisi mengelilingi ka’bah dengan telanjang. Kemudian Nabi Muhammad tidak menghilangkan sama sekali tradisi mengelilingi ka’bah ini, tapi dengan membuat aturan bila mengelilingi ka’bah harus berpakaian.
Begitu juga ketika Islam masuk ke Indonesia dengan dibawa para ulama dan para wali. Mereka sangat memperhatikan budaya setempat. Pada waktu itu masyarakat Indonesia mayoritas menganut agama Hindu. Ada juga yang mempunyai kepercayaan animisme dan dinamisme. Masyarakat waktu itu mempunyai kepercayaan bahwa sesuatu yang ‘besar’ dapat memberikan perlindungan dan keberkahan. Misalnya, gunung, pohon, batu, dan lain-lain. Makanya zaman itu masyarakat sering membawa hasil panenan mereka atau membawa tumpengan yang dipersembahkan untuk pohon atau batu besar dengan harapan hasil panen mereka diberkahi atau mereka dilindungi dari marabahaya. Mengetahui hal ini, para ulama atau wali tidak menghilangkan tradisi ‘jahiliyah’ tersebut. Akan tetapi para ulama memberikan pengarahan bahwa meminta perlindungan tidak boleh kepada benda. Meminta perlindungan hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Lantas, terjadilah ‘kenduri’ yang diisi dengan bacaan-bacaan al-Qur’an dan doa-doa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tetap mempertahankan budaya tapi sesuai dengan ajaran Islam.Jadi, apabila kita memahami agama tanpa melihat aspek budaya maka kita akan menemukan Islam yang kaku, tidak elastis, yang bisa berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Islam harus mengikuti budaya bukan sebaliknya budaya yang mengikuti Islam.













