Baru-baru ini negara kita disuguhkan oleh kejadian-kejadian ‘luar biasa’ dari alam. Alam yang semula tenang berubah menjadi beringas sehingga memakan korban. Sebut saja banjir dan longsor di Warior yang menelan korban 158 orang tewas. Begitu juga dengan bencana tsunami yang terjadi Mentawai yang memakan korban sekitar 428 jiwa. Dan yang sekarang sedang terjadi adalah meletusnya gunung Merapi yang merupakan gunung teraktif di dunia dan telah memakan korban 47 orang tewas termasuk sang juru kunci merapi Mas Panewu Suraksohargo atau lebih akrab disapa Mbah Maridjan.
Banyak orang mengatakan bahwa banyaknya bencana yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini sebab ulah manusia yang telah lupa dengan Sang Pencipta, Allah Swt. Sebagaimana yang telah disebutkan dalam al-Qur’an:
ظهر الفسد فى البر والبحر بما كسبت أيدى الناس ليذيقهم بعض الذى عملوا لعلهم يرجعون
“ Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, suaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) ”
Juga firman Allah dalam surat an-Nahl:
وضرب الله مثلا قرية كانت أمنة مطمئنة يأتيها رزقها رغدا من كل مكان فكفرت بأنعم الله فأذقها الله لباس الجوع والخوف بما كانوا يصنعون
“Dan Allah telah memberi suatu perumpamaan (dengan ) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tentram, rizkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi penduduknya mengingkari ni’mat-ni’mat Allah. Karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan apa yang mereka perbuat.”
Berdasarkan ayat diatas kemudian banyak orang berpendapat –baik itu ahli agama maupun orang awam- bahwa semua bencana yang melanda negeri Indonesia ini akibat manusia sudah ‘jauh’ dari Tuhannya. Kemudian ada yang menganalogikan bencana Indonesia dengan bencana umat-umat terdahulu, seperti umat Nabi Luth ataupun umat Nabi Nuh yang ingkar terhadap perintah-perintah Allah. Walaupun ada juga yang berpendapat berdasarkan logika bahwa bencana ini adalah fenomena alam. Sebut saja banjir dan tanah longsor di Warior adalah fenomena alam yang diakibatkan banyaknya hutan gundul. Berarti ini juga akibat ulah tangan manusia yang menebang kayu sembarangan.
Memang dalam masalah bencana ini kita tidak bisa hanya mengatakan bahwa hal ini adalah fenomena alam yang ‘lumrah’ dan menafikan eksistensi kuasa Tuhan. Kalau kita sepakat adanya campur tangan kuasa Tuhan dalam bencana ini maka hal ini bencana bisa dikaitkan dengan agama seseorang.
Akan tetapi kita harus hati-hati dalam mengeluarkan statemen keagamaan dalam masalah bencana ini. Sebab, bagi korban, mereka akan tersinggung jika mereka disalahkan adanya bencana ini akibat ulah mereka. Belum tentu mereka yang menjadi korban adalah orang yang ahli berbuat maksiat.
Lantas bagaimana hubungan atau relasi agama dengan bencana?
Menurut Harun Nasution, agama berasal dari kata sanskrit. Menurut satu pendapat, demikian Harun Nasution mengatakan, kata itu tersusun dari dua kata, a = tidak dan gam = pergi, jadi agama artinya tidak pergi, tetap di tempat, diwarisi secara turun-temurun. Hal demikian menunjukkan pada salah satu sifat agama, yaitu diwarisi secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi lainnya. Selanjutnya ada lagi pendapat yang mengatakan bahwa agama berarti teks atau kitab suci, dan agama-agama memang mempunyai kitab-kitab suci.
Selanjutnya din dalam bahasa Semit berarti undang-undang atau hukum. Dalam bahasa Arab kata ini mengandung arti menguasai, menundukkan, patuh, utang, balasan dan kebiasaan.
Sehingga bisa diartikan bahwa agama adalah tunduk atau patuh pada undang-undang atau hukum. Kalau dalam agama Islam berarti tunduk kepada al-Qur’an dan Hadits. Orang yang beragama harus tunduk dan patuh terhadap perintah hukum tersebut (al-Qur’an dan Hadits). Apabila mereka melanggar aturan hukum pasti ada sanksi dari Sang Pembuat Hukum, yaitu Allah Swt.
Dalam Islam kata “bencana” sering disebut dengan kata musibah ataupun bala’. Perspektif kaum agamawan dalam membaca kasus bencana alam, biasanya terdiri dari tiga cara pandang:
Pertama, mereka menganggap bencana alam adalah sunnatullah, takdir. Manusia tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Seperti kata Syekh Taqi Misbah Yazdi “Gejala-gejala dan bencana alam yang menyakitkan itu merupakan kelaziman dari perbuatan-perbuatan yang bersifat materi, di mana benda-benda itu saling berinteraksi, bergesekan dan berbenturan. Mengingat bahwa kebaikan gejala-gejala tersebut lebih banyak daripada keburukannya, hal itu tidak bertentangan dengan Hikmah Ilahiah”.
Kedua, bencana alam adalah peringatan Allah SWT atas dosa yang terjadi di muka bumi.
Ketiga, bencana alam adalah azab bagi manusia, yang hidup dalam dosa dan mengabaikan ajaran agama.
Bagi sebagian masyarakat, tanda-tanda peringatan (dan juga hukuman) bisa digotak-gatik-gatuk kan dari berbagai isyarat datangnya bencana antara lain gempa bumi sebagai berikut :
1. Gempa di Tual, Maluku, tanggal 24/10-2004 (QS 24/ An-Nuur ayat 10) pada pukul 20.31 (QS 20/ Thaahaa : 31, tentang ajakan mensyukuri pertolongan Allah dan bertobat)
2. Gempa di Nabire – Papua, 26/11-2004 pukul 09.25 (QS 26/ Asy Syua’raa:11 dan QS 9/ At-Taubah :25, tentang peringatan kepada kaum Fir’aun dan orang-orang yang sombong)
3. Gempa dan Tsunami Aceh, pada 26/12-2004 pukul 07.59 (QS 26/Asy Syu’araa : 12 dan QS 7/ Al-A’raaf : 59, tentang ancaman nabi Nuh)
4. Gempa Yogyakarta dan ledakan Lumpur Lapindo, 27/05-2006 Jam 05.53 (QS 27/ An-Nahl : 5 dan QS 5/ Al-Maidah : 53, tentang orang-orang yang memperoleh seburuk-buruk siksa dan terhapusnya segala amal menjadi orang – orang yang merugi)
5. Gempa Sumatera Barat, 06/03-2007 (QS 6/ Al-An’am : 3, tentang kekuasaan Allah Swt untuk mengetahui apa saja yang kita lakukan)
6. Gempa Bengkulu, 12/09-2007 (QS 12/ Yusuf : 9, tentang persekutuan jahat saudara-saudara Nabi Yusuf).
7. Gempa Bengkulu, 13/09-2007 jam 07.40 (QS 13/ Ar-Ra’du : 9 dan QS 7/ Al-A’raaf : 40, tentang kekuasaan Tuhan mengetahui segala hal termasuk yang tersembunyi, serta balasan terhadap orang-orang yang sombong, berdosa dan mendustakan ayat-ayat Allah Swt)
8. Gempa Sulawesi, 13/09-2007 jam 17.48 (QS 13/ Ar-Ra’du : 9, idem di atas, dan QS 17/ Al-Israa : 48, tentang peringatan Tuhan terhadap orang-orang dzolim)
9. Gempa Bengkulu, 22/09-2009 (QS 22/Al-Hajj : 9, tentang azab untuk orang-orang yang sombong)
10. Gempa Yogyakarta, Jawa Tengah, Lampung, Bengkulu & Sumatera Barat, 09/08-2007 (QS 9/At-Taubah : 8, tentang orang-orang fasik)
11. Beberapa kali gempa di berbagai tanah air termasuk Bengkulu 17/08-2009 (QS 17/Al-Israa : 8, yaitu peringatan tentang rahmat untuk orang-orang yang taubat dan azab bagi yang durhaka)
12. Gempa Pantai Selatan Jawa Barat, 02/09-2009 (QS 2/ Al-Baqarah : 9, tentang orang-orang yang hendak menipu Allah dan orang-orang beriman).
13. Gempa Bengkulu, 17/09-2009 jam 06.46 (QS 17/ Al-Israa : 9, yaitu pemberitahuan dan peringatan agar mengikuti petunjuk Allah dan QS 6/ Al-An’am :46, tentang berbagai tanda dan peringatan Allah beserta hukumannya)
14. Gempa Bali, 19/09-2009 jam 06.06 (QS 19/ Maryam : 9, tentang betapa mudah Allah menjalankan kuasanya dan QS 6/ Al-An’am : 6, tentang banyaknya umat yang dibinasakan Allah karena dosa-dosanya.
15. Gempa Sumatera Barat 30/09-2009 jam 17.16 (QS 30/ Ar-Ruum : 9, tentang orang-orang yang menganiaya diri sendiri dan QS 17/ Al-Israa : 16, tentang azab Allah akibat perbuatan orang-orang yang durhaka dan bermewah-mewahan, dengan menghancurkan negerinya sehancur-hancurnya.
16. Gempa Sumatera Barat susulan, 30/09-2009 jam 17.38 (QS 17/ Al-Israa : 38 tentang kejahatan yang dibenci Allah karena melanggar larangan-larangan-Nya.
17. Gempa Jambi, 01/10-2009 jam 08.52 (QS 8/ Al-Anfaal : 52, tentang siksaan Allah yang sangat keras terhadap orang-orang yang ingkar dan berdosa sebagaimana ditimpakan terhadap Fir’aun).
Menurut pandangan saya, bencana yang terjadi di Indonesia ini bukanlah azab tapi peringatan dari Allah Swt. Sebab, kalau kita melihat korban-korban bencana ini tidak semuanya tewas. Tapi, ada yang selamat. Berbeda dengan “azab” sebagaimana yang telah menimpa kaum terdahulu. Sebut saja kaum Nabi Nuh yang ditimpakan azab banjir bandang kepada mereka. Dan mereka yang ingkar terhadap ajakan Nabi Nuh tenggelam semua tidak ada yang selamat termasuk anak Nabi Nuh yang telah berusaha menyelamatkan diri ke gunung yang tinggi. Dalam kasus bencana Merapi misalnya, apakah yang tewas adalah yang ingkar terhadap ajaran agama dan yang selamat adalah orang yang taat??
Jadi, dalam beragama seseorang harus patuh terhadap hukum agama. Apabila tidak patuh, maka ada sanksi. Sanksinya bisa berupa azab (yang merupakan sanksi keras) dan sanksi yang berupa peringatan atau teguran. Bencana yang terjadi ini merupakan peringatan atau teguran dari Allah Swt terhadap umatnya yang lalai.
Cara penyelesaian dalam menghadapi bencana adalah tawakal, tobat, dan doa. Dengan tawakal, tobat yang sungguh-sungguh (taubah nashuha) dan doa yang khusyuk, baik dilakukan sendiri-sendiri maupun bersama-sama seperti istighosah, dzikir akbar insyaallah Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Pemurah akan menurunkan rahmat-Nya dan mengurangi bencana alam.
Wallahu a’lam bishowab.