Minggu-minggu ini saya agak sedikit sibuk dengan kegiatan kantor. Maklum sebagai pegawai fungsional saya lebih banyak waktu di luar [jam] kantor. Jadwal saya minggu ini adalah sowan ke ‘kyai kampung’ di kecamatan tempat saya bertugas, Boyolali. Berbarengan dengan tugas dari Penamas/pekapontren Kemenag Kab. Boyolali yang menugasi Penyuluh Fungsional untuk mendata ustadz/ustadzah TPA/TPQ se-kecamatan sekaligus saya gunakan sebagai ‘ajang’ silaturahmi ke pimpinan TPA/TPQ setempat atau yang saya sebut di atas ‘kyai kampung’ sebagaimana istilah yang ditrend-kan oleh Gus Dur. Walaupun, menurut Gus Dur istilah Kyai Kampung yang dimaksud adalah pemilik atau imam masjid/mushola/langgar ataupun tokoh agama di kampung setempat. Di sini saya menyebut para pemimpin TPA/TPQ juga sebagai Kyai kampung. Karena perannya dalam mengajarkan agama kepada anak-anak secara istiqomah di tengah-tengah maraknya berbagai teknologi dan hiburan yang membuat anak ‘malas’ belajar agama atau mengaji.
Dari hasil saya sowan ke pemimpin TPA/TPQ ada pelajaran yang bisa saya ambil:
Pertama, dalam data TPA/TPQ yang telah terdata ternyata banyak TPA/TPQ yang telah ‘mati’. Hal ini disebabkan karena tidak adanya pengajar. Tidak adanya pengajar ini disebabkan karena pengajar jika seorang perempuan, kemudian menikah dia akan ikut serta suaminya dan meninggalkan tempat dia berdomisili dan mengajar. Juga pengajar lebih mementingkan pekerjaan yang ‘lebih menjanjikan’ untuk kelangsungan hidupnya daripada mengajar di TPA/TPQ. Jadi yang kedua ini alasannya masalah ekonomi. Pemecahannya, menurut saya adalah kaderisasi pelajar tingkat SMA/MA untuk mengajar TPA/TPQ di sore hari di masing-masing daerah/desa dengan, jangan lupa, diperhatikan juga kesejahteraannya. Misalnya, santri TPA/TPQ ditarget mulai dari tingkat SD/MI sampai tingkat SMP/MTS. Setelah itu, untuk yang telah mencapai tingkat SMA mereka siap ‘mental’ untuk mengajar. Dan hendaknya kurikulum TPA/TPQ dibuat dengan baikatau diseragamkan dan -kalau bisa- ditambah dengan ‘ngaji’ bahasa Inggris dan ‘ngaji’ komputer untuk tambahan ketrampilan dari santri-santri atau keterampilan yang dibutuhkan di daerah setempat. Hal ini juga untuk mengantisipasi bagi mereka tidak ngaji TPA karena alasan mengikuti kursus bahasa Inggris atau kursus komputer.
Kedua. Keikhlasan para ustadz/ustadzah dalam mengajar. Hal ini bisa dilihat dari penghasilan yang mereka peroleh dari mengajar ngaji yang ‘cukup’ alias tidak banyak dan tidak sedikit. Dan kebanyakan ustadz/ustadzah yang masih ‘bertahan’ tidak begitu mempermasalahkan gaji mereka dari mengajar ngaji. Ya, karena tidak kita jumpai ‘demo’ ustadz/ustadzah TPA/TPQ. Kalau guru sekolah,dulu, sering demo. Kalau sekarang gajinya sudah selangit ndak demo lagi. Hehehe..
Ketiga, ini masuk ke ranah pribadi saya sendiri. Hoho apanya..? Begini, ketika saya mendatangi seorang kyai atau pimpinan TPA/TPQ saya bertanya tentang tingkat pendidikan santri-santrinya. Beliau menjawab bahwa santrinya dari siswa-siswi SD sampai SMP. Lha kenapa yang SMA tidak? Jawab beliau, kalau SMA nanti saya takut terkena fitnah ketika melihat santrinya dari siswi SMA. Hehehe..Paham maksudnya? Karena memang pimpinan TPA/TPQ tersebut masih tergolong muda, berumur sekitar 35an tahun sudah beristri dan mempunyai 2 anak. Jadi, kalau melihat remaja putri yang khususon cantik bin bahenol dikhawatirkan akan menarik hati beliau dan terkena fitnah. Lha, apa ada sangkut pautnya dengan saya? Saya pernah menolak dijodohkan orangtua saya. Alasannya sederhana dan –menurut saya- MASUK AKAL, yaitu tidak cantik. Walaupun dia pintar dan hapal al-Qur’an. Karena saya merasa dunia saya untuk kedepan akan semakin berat godaannya, wa bil khusus masalah wanita. Karena Nabi Adam terlempar dari syurga adalah karena godaan wanita . Betul tidak? Dan saya sangat mengkhawatirkan diri saya jika istri saya -yang tentu saja menurut saya- tidak cantik, walaupun kamu bilang cantik. Karena mataku dan matamu sudah tentu beda. Lalu banyak yang tanya, lha terus seleramu itu yang kayak apa? Saya jawab, cantik dan pintar (kalo pintar sudah tentu sholehah. Kalau pintar tidak sholehah dia tidak pintar. Ini juga menurut saya) itu aja.
Wallahu a'lam bisshowab








0 komentar:
Poskan Komentar