Kamis, 10 November 2011

Rendah Diri bukan Merendahkan Diri


Pada zaman seperti saat ini, zaman dimana persaingan hidup sangat ketat, perputaran perekonomian sangat pesat. Atau bisa dikatakan siapa saja yang hidup hanya berpangku tangan dia akan ditinggal oleh zaman itu sendiri. Maka manusia dituntut untuk selalu berusaha sekuat tenaga, peras keringat banting tulang untuk menghadapi kehidupan yang keras ini. Adakalanya keberhasilan yang berhasil diraih dan sebaliknya, kegagalan yang dia dapat.


Bagi mereka yang mendapatkan keberhasilan terkadang merasa bahwa keberhasilan yang ia capai adalah benar-benar murni hasil keringat sendiri tanpa ada campur tangan orang lain. Bahkan Tuhan sekalipun dilupakan. Murni hasil tangan sendiri. Penyakit seperti inilah yang harus kita waspadai. Keberhasilan sekecil apapun harus tidak membuat kita lupa diri. Tidak boleh kita membanggakan diri atas keberhasilan yang kita raih.


Itulah mengapa agama menyuruh kita untuk bersikap tawadhu’ atau rendah diri (rendah hati). Tawadhu’ adalah kalau kita tidak melihat diri kita memiliki nilai lebih dibandingkan orang lain. Orang tawadhu’ adalah orang yang menyadari bahwa segala kenikmatan yang ia peroleh berasal dari Allah.


Hampir-hampir saat ini manusia sedikit terkikis sikap tawadhu’ atau rendah dirinya. Mereka mengartikan bahwa tawadhu’ adalah merendahkan diri dihadapan orang lain. Atau menghinakan diri di hadapan orang lain. Beda. Merendah diri di hadapan orang lain bukan dengan cara menghinakan diri sendiri. Mengemis minta belas kasihan atau menyanjung orang lain dan merendahkan diri kita.


Jika seseorang tidak memiliki sikap tawadhu’ atau rendah diri, maka yang timbul dari manusia tersebut adalah sikap sombong. Karena dia merasa bahwa segala keberhasilan adalah usahanya sendiri dan memandang rendah orang yang dibawahnya. Sikap benar sendiri dan tak mengakui kebenaran orang lain. Sikap sombong tersebut sangat dilarang oleh Allah dalam firman-Nya:


Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al-Isro’:37)


Dari ayat di atas, Allah melarang kita untuk bersikap sombong terhadap apa yang telah kita raih. Walaupun yang kita raih itu setinggi gunung. Tapi tetap tidak akan bisa. Atau dengan kata lain saya bisa mengatakan kita boleh sombong jika kita mempunyai kekayaan emas murni,intan, berlian sebesar gunung Himalaya!! Ada tidak? Kalau harta kita hanya beberapa gram atau kilogram emas, apa yang pantas kita sombongkan? Kita hanya bisa rendah diri bahwa kita tidak ada apa-apanya dibanding kekayaan yang Allah miliki.


Salah satu hal yang menjadi penghalang bagi kita untuk bersikap tawadhu’ atau rendah diri adalah sikap gengsi. Gengsi karena tidak mau mengakui kelebihan orang lain, tidak mau mengakui kebenaran orang lain, dan lain-lain. Bisa juga dikatakan bahwa gengsi adalah salah satu bentuk kesombongan.


Oleh sebab itu, marilah kita memiliki sikap rendah diri ini. Sekali lagi, rendah diri bukan merendahkan diri. Tandanya adalah disaat seseorang semakin bertambah ilmunya, maka semakin bertambah pula sikap tawadhu’ dan kasih sayangnya. Semakin tambah amalnya semakin tambah rasa takut dan waspadanya. Setiap kali bertambah usianya maka semakin berkurang ketamakan nafsunya. Semakin bertambah hartanya, semakin bertambah kedermawanannya. Semakin tinggi kedudukan atau posisinya maka semakin dekat pula dia dengan manusia atau rakyat dan berusaha menunaikan kebutuhan-kebutuhan mereka.


Dan yang perlu kita ketahui bahwa tawadhu’ ada dua,yaitu tawadhu’ terpuji dan tawadhu’ tercela. Tawadhu’ tepuji adalah sikap rendah diri seseorang terhadap Allah dan tidak mengangkat diri terhadap orang lain. Tawadhu’ yang tercela adalah sikap rendah diri seseorang kepada orang lain karena menginginkan dunianya (kekayaan,pangkat, jabatan, dll). Tawadhu’ yang pertama inilah yang harus kita miliki. Bukan sebaliknya, tawadhu yang tercela. Kita menghinakan diri kita kepada sesama makhluk karena adanya keinginan kita untuk mendapatkan sesuatu dari orang tersebut. Kita mendekat kepada orang tersebut dan merendahkan diri kita karena kita berharap dikasih uang, berharap dikasih jabatan, dan lain-lain. Atau dengan kata lain mengemis kepada makhluk Allah. Jika kita memiliki tawadhu’ yang pertama, yaitu sikap rendah diri kita terhadap Allah dan tidak mengunggulkan diri kita dihadapan orang lain. Maka Allah akan memuliakan kita.

Rasulullah bersabda “Tidaklah berkurang harta karena bersedekah, dan Allah tiada menambah pada seseorang yang memaafkan melainkan kemulyaan. Dan tiada orang yang bertawadhu’ kepada Allah melainkan dimuliakan oleh Allah” (HR. Muslim).

Lantas termasuk tawadhu’ yang manakah kita?
Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

Komen Via Facebook