Waktu Lebaran

Habis sholat Idhul Fitri berpose dulu di rumah..

Di Kudus

Mau beli jajanan khas Kudus eh ada museum rumah adatnya..numpang foto..

Di Jogja

Beli blangkon khas Jogja.. Coba dulu baru beli..

Pelatihan Khatib dan Da'i Muda

untuk mengembangkan bakat da'i muda dan mencetak khatib handal...

Mina 2005

Waktu di Mina ama bapak

Candi Cetho Karanganyar

Touring ke candi Cetho, Karanganyar.. kalo kesini lebih baik pake motor, jangan mobil. soalnya jalannya nanjak banget..

Kamis, 14 April 2011

Fenomena Briptu Norman dan Bollywood

Dua bulan yang lalu mungkin tak banyak yang kenal dan tahu nama Norman yang menjadi anggota Brimob Gorontalo. Tapi di bulan ini, nama Norman menjadi terkenal dan dikenal mulai dari kalangan anak-anak sampai kakek-kakek. Wajahnya mulai menghiasi acara televise dan katanya aka nada yang ngajak main sinetron dan menjadikannya bintang iklan. Ya, karena video-nya yang diunggah di Youtube dengan penuh penghayatan seolah-olah dia menjadi Shahrukh Khan sedang menyanyi lagu Chaiyya-chaiyya dengan lip sync ‘sempurna’.


Banyak yang memandang remeh lagu-lagu Bollywood. Banyak yang bilang lagu-lagu Bollywood ‘kampungan’, katrok, ndeso, dan lain-lain. Saya adalah salah satu dari sekian banyak (di dunia) yang menyukai lagu Bollywood. Tapi, sayang saya belum pernah merekam sendiri waktu nyanyi dan berjoget ‘ala’ Bollywood eh ala kadarnya. Saya mulai menyukai film Bollywood sekitar 10 tahun yang lalu pas-nya tahun 2001. Ketika itu saya ‘tidak sengaja’ menonton film India di Bioskop di Kediri Jatim. Saya katakan tidak sengaja karena memang hanya film itu lah satu-satunya yang diputar kala itu. Filmnya berjudul “Kahona Pyaar Hai” dengan bintang Hrithik Roshan dan Amisha Patel. Itu adalah film perdana Hrithik sebagai pemeran utama yang diproduseri oleh ayahanda Hrithik, Rajesh Roshan. Sebenarnya waktu itu saya ndak bergairah nonton film tersebut karena film India. Padahal waktu berangkat saya ingin menonton film Hollywood eh ternyata yang ada malah ‘H’nya diganti ‘B’ alias Bollywood. Akhirnya, daripada tidak nonton sama sekali ya saya paksa masuk bioskop. Dan ternyata, diluar dugaan saya, filmnya sangat bagus berbeda dengan film-film India yang saya lihat sebelumnya yang emang ‘kuno’, polisi datang telat, lagu-lagu dengan gendang yang mirip dangdut. Ternyata lagu-lagunya berbeda. Modern. Sejak itulah saya menikmati film-film Bollywood khususnya yang dibintangi Hrithik Roshan. Dan memang film “Kahona Pyar Hai” tersebut menyabet banyak penghargaan di piala FFI-nya India dan menjadi film terbaik tahun 2001 termasuk sang bintang, Hrithik Roshan.


Akhir-akhir ini, kembali lagu-lagu Bollywood menjadi fenomena di Indonesia setelah seorang Norman, sang polisi mengunggah video lip sync-nya ke Youtube dan telah diview seratus lima puluh ribu orang lebih. Andaikata Briptu Norman konser di Stadion Utama Bung Karno maka Stadion akan full penonton. Dan setelah itu briptu Norman mendapat ‘job’ baru menjadi seorang penghibur. Banyak undangan-undangan dari pihak televisi yang menginginkannya untuk tampil di acara televisi. Kenapa briptu Norman begitu fenomena saat ini?


Pertama, karena dia adalah anggota Brimob, polisi. Selama ini kalau kita mendengar kata ‘polisi’ maka yang ada dibenak kita adalah tampang sangar, galak, sering nilang trus nyebutin nominal uang, dan lain-lain. Kemudian, masyarakat melihat video seorang polisi yang bisa membuat ‘ngakak’ karena dia benar-benar bisa menghayati ‘peran’nya sebagai Shahrukh Khan. Padahal kawannya polisi yang berada disampingnya bersikap cuek bebek tapi dia tetap enjoy aja berjoget India. Setelah melihat video tersebut masyarakat jadi tahu kalau ada polisi yang lucu, ada bakat menghibur. Masyarakat kemudian banyak yang suka. Mungkin kalau yang joget saya, memakai seragam Kementerian Agama tidak akan menarik perhatian masyarakat. Karena orang Kementerian Agama aslinya ndak 'sangar'. Hehehe.. Makanya saking sukanya pada ulah Briptu Norman, sang Brimob tadi ‘dibela’ oleh masyarakat ketika mendengar akan adanya sanksi bagi dia karena berjoget saat tugas.


Kedua, wajah atau ekspresi Briptu Norman yang memang kocak. Jadi, banyak masyarakat yang suka dengan aktingnya bahkan ada yang gemes. Hehe..


Ketiga, anda bisa menilai sendiri.. saya kira cukup sekian dari saya..



* Penulis adalah Pengamat dan Penikmat Film-film Bollywood

Jumat, 08 April 2011

Implikasi Iman Terhadap Perilaku Seseorang

Sebelum perjalanan isro’ dimulai, oleh malaikat Jibril Rasulullah dibawa ketepi sumur zam-zam. Disana dibersihkan hati Nabi, bukan karna hatinya kotor, tapi yang bersih ditambah menjadi lebih bersih. Lalu dipenuhi hati Nabi dengan iman, ilmu dan hikmah. Nabi akan melakukan perjalanan jauh. Jauuuh menghadap Allah ke Sidratul Muntaha. Perlu bawa bekal. Bekalnya iman, ilmu dan hikmah. Begitu juga hidup ini. Hidup ini kan perjalanan panjang. Kita pernah tinggal di alam arwah. Dari alam arwah kita pindah ke alam rahim, alam kandungan ibu. Dari alam rahim kita pindah kea lam dunia sekarang ini. Dari alam dunia kita akan menuju alam barzakh atau alam kubur. Dari alam kubur kita akan menuju alam mahsyar atau akherat. Ini kan perjalanan panjang perlu bawa bekal. Bekalnya apa? Harta? Tahta? Iya..tapi yang pokok adalah bekal iman, ilmu dan hikmah.


Pada pertemuan kali ini saya akan membahas tentang bekal yang pertama saja yaitu tentang iman.. bagaimana implikasi atau pengaruh iman terhadap perilaku seseorang.


Suatu ketika para sahabat duduk-duduk bersama Rasulullah. Tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju sangat putih dan rambutnya sangat hitam. Dilihat dari penampilannya dia bukan musafir, tapi dia asing dimata sahabat. Dia langsung duduk di depan Nabi, lututnya ditempelkan dilutut Nabi. Orang asing itu berkata “

يا محمد اخبرنى عن الاسلام؟

Hai Muhammad, beritahu aku tentang Islam?

Rasul menjawab

الاسلام أن تشهد أن لا إله الا الله وأن محمدا رسول الله وتقيم الصلاة و تؤتى الزكاة وتصوم رمضان وتحج البيت إن استطعت اليه سبيلا

Islam adalah kamu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, menjalankan sholat, menunaikan zakat, berpuasa Romadhon, haji ke baitullah bagi yang mampu..


Orang asing itu berkata “ Shodaqta” leres panjenengan.. Sahabat pada bingung. Ini orang tanya kok lantas membenarkan. Belum selesai rasa herannya, orang asing tadi bertanya lagi,

beritahu saya tentang Iman.?

Rasul menjawab:

ان تؤمن بالله وملائكته و كتبه و رسوله واليوم الاخر وتؤمن بالقدر خيره وشره

Kamu beriman kepada Allah, malaikatNya, kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya, hari akhir dan beriman dengan takdir, baik dan buruknya..

Orang asing menjawab “Shodaqta”


Kemudian beritahu saya tentang ihsan?

Nabi menjawab, " Jika kamu menyembah (beribadah) kepada Allah seakan-akan kamu melihatNya. apabila kamu tidak melihatnya maka sesungguhnya Allah melihatmu..


Kemudian setelah orang asing itu pergi, Rasul bersabda pada Umar,

يا عمر اتدرى من السائل؟

Hai Umar..Apakah kamu tahu siapa yang tanya tadi?

Umar menjawab, “Allah dan Rasulnya yang tahu”

Nabi bersabda,

فإنه جبريل اتاكم يعلمكم دينكم

Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.


Dari hadis tadi bias ditarik 2 kesimpulan:

Dalam mengajarkan agama, Nabi memakai media sandiwara. Aktornya hanya ada 2, Nabi dan Jibril. Penontonnya, para sahabat. Begitulah dalam berdakwah kita tidak hanya berceramah langsung menyampaikan materi, tapi kita bisa memakai media lain seperti melalui media hiburan. Kita bisa berdakwah melalui film, sinetron, teather, ketoprak dan lain sebagainya. Tapi saat ini mayoritas sinetron dan film mengajarkan percintaan daripada masalah keagamaan. mengajarkan kekerasan daripada perdamaian. Mengajarkan cerita horor, hantu-hantu daripada film yang bermutu.. Na'udzubillah..
Secara garis besar dalam beragama dibagi menjadi 3 tingkatan: 1. Islam 2. Iman 3. Ihsan

Islam seperti yang telah disebutkan di hadits, Islam adalah syahadat, sholat, zakat, puasa dan haji..sedang iman adalah percaya kepada Allah, Rasul, malaikat, kitab dan hari akhir dan takdir... sedang ihsan adalah kita beribadah kepada Allah. Beribadah tidak hanya sholat saja..kita bekerja ini termasuk beribadah..kita beribadah, kita bekerja seakan-akan kita melihat Allah. Kalao kita tidak melihat Allah, maka kita yakin Allah pasti melihat kita... kalo orang sudah syahadat, brarti Islam.. tidak peduli setelah syahadat dia masih melakukan maksiat..dia Islam, tapi belum beriman. Dia rajin melakukan sholat, tapi dia juga rajin mendatangi lokasi pramunikmat.. Islam, tapi belum beriman.. dia rajin melakukan puasa, tapi dia juga rajin memfitnah tetangga. Dia rajin menunaikan zakat, tapi kalo menyelesaikan masalah selalu memakai tongkat .. dia juga sudah haji, tapi masih tetap menyakiti istri atau suami.. Islam, tapi belum beriman…


Iman saya ibaratkan rem. Tau rem ya? Kendaraan, sepeda motor, mobil, bis, sepeda onthel itu ada remnya. Anda mau saya ajak piknik ke Bali. Gratis tidak bayar. Mau? Tapi bisnya ndak pake rem.. mau?? nabrak. begitu juga kita manusia jika hidup tanpa iman ibarat kendaraan tanpa rem. Apa-apa ditabrak. Entah itu haram, entah itu halal. Entah itu sepatu entah itu sandal, entah itu batu entah itu aspal, entah itu guling apa bantal, entah itu cecak apa kadal semua diuntal..

Tau itu barang milik orang lain ya ditunggu dia lena.. Iman yang mengontrol.. dia rajin sholat jamaah dimasjid..datang dia pake sandal swallow..keluar masjid bawa sepatu pakalolo.. Iman, kontrol.. Eh, ini bukan pengalaman pribadi ini…




Jadi kesimpulannya, apabila seseorang itu bisa dikatakan beriman maka akan berpengaruh pula dalam sikap kesehariannya..

Sebagaimana sabda Nabi


من كان يؤمن با لله واليوم الاخر فليحسن الى جاره و من كان يؤمن با لله واليوم الاخر فليكرم ضيفه و من كان يؤمن با لله واليوم الاخر فليقل خيرا او ليصمت

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka berbuat baiklah pada tetangga,sama tetangga rukun, mulyakanlah tamu...adat orang Jawa kalo ada tamu minimal..minimal lah disuguh air putih.. memulyakan tamu.. kemudian bicaralah yang baik atau diam... inilah sikap orang yang beriman.. kalo dia bicara yang dikeluarkan dari mulutnya adalah emas.. dan diamnya adalah perak..


Wallahu a'lam..


>> Materi kultum di Masjid Kankemenag Kab. Boyolali tanggal 14 Februari 2011

Kamis, 07 April 2011

Film Humanis Relegius "Masih Pentingkah Kita Berbeda"

Barusan saya menonton film karya mas Hanung Bramantyo yang berjudul “?”MASIH PENTINGKAH KITA BERBEDA. Saya memang pengagum mas Hanung, film-film mas Hanung selalu saya nikmati terutama yang ‘berbau’ agama seperti Perempuan Berkalung Sorban, Ayat-ayat Cinta, Sang Pencerah, dan yang baru “?”. Film mas Hanung ini bisa jadi alternatif bagi pecinta film lokal yang kebanyakan cuma berkutat pada tema horror, komedi seksual.

Kalau kita ingin berkomentar masalah film, lihat dulu filmnya baru berkomentar. Jangan seperti ketika film 2012 diputar sebagian orang Islam mengharamkan film tersebut karena ada adegan masjid yang ‘dihancurkan’ oleh Roland Emerich sang sutradara. Setelah menonton ternyata yang dihancurkan bukan masjid tapi gereja Vatikan. Karena sama-sama ada kubahnya..

Mengawali cerita film, Hanung langsung menghadirkan sebuah konflik. Seorang pastur yang tengah menyambut para jemaat di muka gereja ditikam seorang pemuda. Dugaan Anda tak keliru rupanya, karena pikiran kita akan digiring pada tudingan bahwa umat Islamlah yang telah dengan sengaja melakukannya. Tetapi, benarkah demikian?

Setelah memberikan konflik berbau agama, cerita film ini lebih banyak memotret pada lingkup kehidupan yang lebih kecil, tetapi cukup menyimpan persoalan pelik di dalamnya. Panggung cerita itu disajikan di salah satu sudut kota tua di Semarang bernama Pasar Baru.

Di sana ada masjid, gereja, dan klenteng. Lalu, untuk membuat cerita ini hidup, Hanung menghadirkan tiga keluarga dengan latar belakang sosial ekonomi dan suku yang berbeda.

Ada keluarga Tan Kat Sun (diperankan oleh Hengky Sulaeman), yang memiliki restoran Canton Chinese Food. Ia adalah seorang kepala keluarga yang toleran terhadap perbedaan, tetapi ternyata menyimpan persoalan dengan putranya, Hendra (Rio Dewanto), dalam menjelaskan betapa pentingnya bertoleransi dengan tetangga yang berbeda agama dan budaya. Bentuk tolorensi Tan Kat Sun ini salah satunya ditunjukkan dengan membedakan perkakas memasak untuk makanan tidak halal dan halal, serta memberikan libur selama lima hari kepada karyawannya yang Muslim ketika masa Lebaran tiba.Kisah lain seorang sahabat dari Menuk, Rika (endhita) seorang janda baru pindah agama, namun dipertentangkan oleh orang sekitarnya termasuk anaknya Abi (Baim). Namun Rika tetap menghormati dan mengajarkan hal-hal Islam kepada anaknya yang memilih Islam sebagai agamanya.

Lain halnya permasalahan yang dihadapi Surya (Agus Kuncoro), teman dekat Rika pria tanggung mengakunya artis tapi lebih banyak sebagai figuran. Dan satu lagi anak dari Tan Kat Sun, Ping Hen (Rio Dewanto) yang sangat anti dengan muslim. Eh ada juga si Glenn Fredly main sebagai Doni teman gereja Rika.

Film ini berjalan seperti kisah masyarakat di mana, ada yang saling menghargai dan ada juga yang saling mengejek satu sama lain. Bagaimana Tan Kat Sun menghadapi anaknya, bagaimana Rika menjelaskan posisinya sebagai penganut Katholik padahal anaknya Islam masih kecil, seberapa tahankah Menuk menghadapi suaminya.

Bagaimana Surya seorang muslim yang dilema bagaimana menghasilkan uang dengan jalan seni peran, salah satunya tawaran menjadi Yesus dalam pementasan Drama Paskah di Gereja Rika dan Rumah Makan Tan Kat Sun sebagai penyedia konsumsinya. Serta Si Soleh yang akhirnya menjadi Banser NU menjaga malam paskah di Gereja.

Untuk sebagian besar konflik yang dibangun di dalam cerita ini, seperti diakui Hanung, banyak diinspirasi dari kisah nyata yang pernah terjadi di negeri ini. Salah satunya, ketika Soleh mencoba mengamankan perayaan malam Natal.

Soleh yang kala itu sudah mendapat pekerjaan sebagai anggota Banser NU, dengan keberaniannya menjadi tameng terhadap bom yang meledak. Hanung sempat mengatakan, sosok Soleh ini terinspirasi dari kisah anggota Banser NU bernama Riyanto, yang wafat ketika bertugas mengamankan malam Natal di Gereja Eben Haezer, Mojokerto, sepuluh tahun silam.

Tetapi, sebagai sebuah karya populer, Hanung tetap tidak mau melupakan bumbu cinta di dalam filmnya. Namun, bukan cinta sepasang ABG yang hendak disajikannya. Tetapi, cinta di sini bisa juga menjadi universal, bagaimana seorang anak mencintai ibunya atau juga hubungan cinta Rika-Surya.

Lalu, ada pula api cemburu yang terletup hingga menghadirkan konflik, seperti amarah Hendra kepada Soleh. Hendra dan Menuk sebelumnya sempat menjalin kasih. Namun, cinta keduanya tak berlanjut ke pelaminan karena perbedaan agama.

Sebelum Soleh dan Hendra menemukan kesadaran bahwa perbedaan itu adalah anugerah, keduanya sering kali beradu mulut dan fisik. Hendra menyebut Soleh sebagai teroris, karena streotip bahwa Islam itu kerap berperilaku anarkis. Sedangkan, Soleh secara rasial menghardik Hendra sebagai 'Cina'-sebuah ucapan bentuk kesal yang merujuk pada satu etnis tertentu.

Esensi film ini bagus, menyentuh. Secara keseluruhan memang film ini memuat ajaran pluralisme. Dalam arti pluralisme yang bukan menyamakan semua agama. Tapi sikap toleransi dalam beragama dan menjaga kedamaian antar sesama.
Setting lokasi yang mengambil latar belakang suatu daerah di Semarang pada tahun 2010- awal 2011 ini sangat enak ditonton. Ini salah satu kelebihan film mas Hanung, setting latar yang pas, rapi. Teknik kamera juga bagus membuat mata ndak bosan untuk trus menonton. Mengenai akting para bintang saya acungkan jempol buat mas Agus Kuncoro. Dia bisa berakting sebagai Surya yang pekerjaannya hanya sebagai tukang main film figuran dan berakting sebagai Yesus dan akting kocaknya sebagai Santa Claus. Akting actor senior Hengky Sulaiman juga sip..

Film ini juga mengharukan. Ketika ada anak kecil yang sakit keras dan idolanya adalah Santa Claus, kemudian Agus Kuncoro menghibur dengan memakai kostum Santa dan menanyakan si anak apa permintaanya, karena Santa akan mengabulkan permintaannya. Si anak kemudian menyodorkan sebuah kertas ke Santa. Setelah dibuka disitu tertulis “Saya ingin pergi, saya tidak ingin menyusahkan bapak dan ibu” yang akhirnya si anak benar-benar ‘pergi’. Juga ketika Soleh sang Banser menemukan Bom di gereja lalu membawa lari keluar sambil teriak-teriak “bom..bom” dan “ duuaaaaarrr” sebuah ledakan yang, tentunya, menewaskan Soleh.

Film ini layak ditonton dengan kedua mata. Bukan sebelah mata. Biar tidak asal memvonis.

Komen Via Facebook