
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah pernah berkata, “Dzikir bagi hati ibarat air bagi ikan. Apa jadinya bila ikan dikeluarkan dari air?”
Pernyataan Ibnu Taimiyyah tersebut patut kita renungkan. Apakah memang hati kita telah mendapat nutrisi yang baik atau belum? Sebab, nutrisi yang bernama dzikir ini sangatlah penting bagi hati. Hati yang tidak pernah berdzikir mengingat Allah, maka bisa jadi nantinya akan mati. Alangkah celakanya bila hati kita mati.
Dzikir adalah sesuatu yang ringan karena berupa ucapan tapi sangat besar faedahnya bagi kita semua.. Tapi diantara kita kebanyakan lalai terhadap Tuhan karena kesibukan kita setiap hari. Sehingga kita lebih banyak mengingat nama barang kesayangan kita daripada mengingat asma Tuhan. Adapun diantara faedah dzikir adalah:
Pertama, dzikir adalah makanan pokok bagi hati dan roh. Apabila seorang hamba kehilangan dzikir itu, maka dia laksana tubuh yang tidak mendapatkan makanan pokok.
Abu Musa al-Asy’ari meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dengan orang yang tidak berdzikir kepada-Nya laksana orang yang hidup dengan orang yang mati.” (HR. Bukhori)
Kedua, dzikir dapat menghilangkan kesedihan dan kegelisahan dalam hati. Dengan dzikir maka hati menjadi damai dan tenang. Seperti dalam syi’ir Jawa yang berbunyi, “tombo ati iku limo ing wernane, kaping pisan moco Qur’an lan maknane, kaping pindo sholat wengi lakonono, kaping telu wong kang sholeh kumpulono, kaping papat weteng kudu ingkang luwe, kaping limo dzikir wengi ingkang suwe.”
Salah satu obat hati adalah dzikir yang lama di malam hari. Disaat orang terlelap dalam mimpi, kita bangun sholat dan dzikir.
Allah berfirman:
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.” (QS. Ar-Ra’d:28)
Ketiga, dzikir membuat hamba diingat oleh Allah. Ketika seorang hamba berdzikir mengingat Allah, maka Allah pun mengingatnya. Alangkah bahagianya jika kita selalu diingat oleh Tuhan yang menciptakan kita.
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu. Dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. AL-Baqoroh:152)
Keempat, orang yang senantiasa berdzikir atau mengingat Allah akan dijauhkan dari maksiat. Ketika dia terus menerus mengingat Allah dan mengetahui bahwa Allah melihat apa yang dilakukannya niscaya dia akan malu dan takut melakukan maksiat. Coba kita bayangkan, pasti tidak ada orang yang sebelum mabuk, minum-minuman keras baca “bismillahirrohmanirrohim” atau orang yang mendatangi lokalisasi atau hotel dengan pasangan tak resmi baca “alhamdulillahirobbil ‘alamin” seusai kencan. Dzikir menjauhkan dari maksiat.
Itulah beberapa keutamaan atau faedah dari dzikir. Dimanapun, kapanpun, kita usahakan untuk membasahi bibir kita dengan dzikir. Ketika sedang berada dalam perjalanan menuju kantor, kampus, tempat kerja, pasar atau lainnya, daripada lisan kita berdiam diri lebih baik membaca subhanallah wa bi hamdihi. Terus dibaca sampai ke tempat tujuan. Ketika sedang santai, tak melakukan apa-apa, lebih baik membaca Alhamdulillah,Alhamdulillah, sebanyak-banyaknya. Ketika menggendong anak, umpama, daripada si anak dikudang dengan lagu campursari lebih baik didendangkan sholawatan, dan lain-lain. Bukankah dzikir ini ringan? Tidak menguras tenaga dan energi? Tapi, pahala yang ditimbulkan sangat luar biasa.















