Waktu Lebaran

Habis sholat Idhul Fitri berpose dulu di rumah..

Di Kudus

Mau beli jajanan khas Kudus eh ada museum rumah adatnya..numpang foto..

Di Jogja

Beli blangkon khas Jogja.. Coba dulu baru beli..

Pelatihan Khatib dan Da'i Muda

untuk mengembangkan bakat da'i muda dan mencetak khatib handal...

Mina 2005

Waktu di Mina ama bapak

Candi Cetho Karanganyar

Touring ke candi Cetho, Karanganyar.. kalo kesini lebih baik pake motor, jangan mobil. soalnya jalannya nanjak banget..

Rabu, 24 Agustus 2011

Lebaran Momentum Silaturahmi


Hadirin jamaah sholat Isya’ dan tarawih yang dirahmati Allah,
Alhamdulillah pada malam hari ini, yang merupakan malam terakhir di bulan Ramadhan kita masih diberikan hidayah oleh Allah untuk melaksanakan ibadah puasa dan menjalankan sholat Isya’ dan tarawih bersama-sama. Di saat orang lain sibuk mempersiapkan diri pergi ke pasar, ke mall dan tempat perbelanjaan lain untuk memenuhi kebutuhan hari raya, kita masih menyempatkan diri melaksanakan sholat Isya’ dan tarawih berjamaah. Semoga amal ibadah kita ini diridhoi Allah dan diterima oleh Allah Swt. Dan semoga kita semua keluar dari bulan Ramadhan memperoleh pahala berupa itqun minannaar, dibebaskan dari api neraka. Amin ya Robbal ‘alamin..

Hadirin jamaah sholat Isya’ dan tarawih yang dirahmati Allah,
Hanya tinggal beberapa hari kita akan mencapai hari kemenangan, yaitu hari raya idul fitri. Tradisi negara kita, menjelang lebaran banyak kita saksikan orang kota masuk desa. Walau aslinya mereka adalah orang desa juga. Biasa kita sebut mudik. . Tradisi mudik ini tidak bisa kita jumpai di negara Arab Saudi yang merupakan ‘kiblat’ umat Islam. Karena di Arab Saudi jarang orang merantau mengadu nasib ke ibu kotanya. Hal ini berbeda dengan keadaan di negara kita. Setiap tahun orang yang mengadu nasib ke kota semakin bertambah. Mereka jarang pulang kampung. Dan nuansa idul fitri adalah momen yang tepat untuk pulang kampung dengan tujuan liburan dan juga yang utama adalah silaturahmi ke sanak saudara untuk saling memaafkan.
Sebenarnya silaturahmi ini tidak hanya ketika menjelang lebaran saja. Setiap hari disaat kita memiliki waktu luang bisa digunakan untuk silaturahmi, mengunjungi teman atau saudara. Akan tetapi, di zaman yang modern ini seakan-akan manusia menganggap sepele masalah silaturahmi. Mereka hidup dalam suasana individual. Tidak mau berhubungan dengan orang lain kalau tidak ada manfaatnya. Seakan-akan mereka mengatakan, “Diriku adalah diriku. Dirimu adalah dirimu.” Penyakit seperti ini kebanyakan menjangkiti masyarakat perkotaan yang terbiasa hidup sendiri-sendiri tanpa adanya interaksi dengan masyarakat sekitar. Dikarenakan pandangan seperti itu, tradisi silaturahmi sudah menjadi barang langka. Jangankan bersilaturahmi dengan sanak famili atau tetangga jauh, bahkan banyak sekali diantara mereka yang tidak kenal dengan tetangga dekatnya. Karena merasa tidak membutuhkan, maka mereka pun merasa tidak perlu bersilaturahmi. Padahal di sisi Allah, silaturahmi memiliki keutamaan yang besar.
Diantara keutamaan tersebut sebagaimana sabda Nabi:
“Barangsiapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya dia bersilaturahmi.” (HR. Bukhori)
Bagaimana bisa silaturahmi membuka pintu rezeki?
Pertama, kita harus yakin dengan janji Allah. Yakin bahwa Allah akan member rezeki pada hamba-Nya yang melakukan silaturahmi.
Kedua, dalam ilmu ekonomi atau perdagangan salah satu cara agar kita dapat mengembangkan potensi diri sekaligus memperoleh keuntungan kita harus memperbanyak relasi (hubungan) bisnis atau membangun networking / jaringan. Silaturahmi adalah salah satu cara memperbanyak relasi bisnis. Coba kalau kita dagang tapi cuma duduk-duduk di toko tanpa mempromosikan bisnis kita. Apakah akan mengalami kemajuan?Jika kita silaturahmi maka dalam pembicaraan biasanya akan menyangkut masalah pekerjaan ataupun bisnis. Oleh karena itu, manfaatkan silaturahmi untuk membuka pintu rezeki kita lebar-lebar.

Hadirin jamaah sholat Isya’ dan tarawih yang dirahmati Allah,
Menyambung tali silaturahmi dapat dilakukan dengan berbagai cara. Apalagi di zaman modern seperti sekarang ini. Sarana komunikasi dan transportasi sudah sangat mudah. Jarak sudah bukan masalah lagi. Kalau tidak bisa bertatap muka secara langsung, bias lewat telepon, sms, surat menyurat, internet lewat chatting atau facebook, dan lain-lain. Itu semua sudah dianggap silaturahmi.

Hadirin jamaah sholat Isya’ dan tarawih yang dirahmati Allah,
Semoga kita dapat senantiasa menyambung tali silaturahmi dengan saudara, kerabat, teman, tetangga dan orang-orang yang memiliki hubungan dengan kita sehingga kita bisa selamat dari api neraka, membuka pintu rezeki dan memanjangkan umur. Amin.

Kamis, 18 Agustus 2011

Menghidupkan Malam Lailatul Qodar (Khutbah Jum'at)

Hadirin Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah.

Di dalam setiap ibadah yang diperintahkan oleh Allah terhadap muslim terdapat sekurang-kurangnya dua hal pokok, yaitu hal-hal yang primer atau wajib dan yang bersifat sekunder atau sunat. Atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa setiap ibadah mempunyai aspek wajib dan aspek sunat.

Sesuatu yang disebut wajib harus dikerjakan, tidak boleh ditinggalkan. Diberi pahala (ganjaran) bagi yang mengerjakannya dan diberi hukuman (siksaan) bagi yang meninggalkannya. Tetapi sesuatu yang disebut sunnat adalah sesuatu yang boleh dikerjakan dan boleh ditinggalkan, tetapi bagi yang mengerjakannya diberi pahala dan yang meninggalkannya tidak dapat hukuman apa-apa. Yang sunat sangat dianjurkan untuk dikerjakan. Yang wajib merupakan hal yang pokok, sedangkan yang sunat merupakan hal cabang. Yang wajib adalah unsur utama dan pertama, sedangkan yang sunat adalah unsur pelengkap dan kedua.

Puasa Ramadhan dalam pandangan agama kita merupakan sesuatu yang wajib. Karena itu, seorang muslim yang berpuasa diberi ganjaran pahala oleh Allah, sedangkan yang meninggalkannya akan mendapat dosa dan akan siksaan Allah swt. Di dalam puasa terdapat banyak unsur pelengkap yang dinamakan aksesoris puasa, yaitu hal-hal yang sangat dianjurkan dan disunatkan untuk dilakukan seiring dengan pelaksanaan puasa Ramadhan..
Puasa itu bagaikan sebuah rumah. Sebuah rumah mesti memliki unsur utama dan unsur pelengkap. Unsur utama rumah adalah semua bagian-bagian yang penting dari rumah itu. Rumah harus memiliki fondasi, tiang, memiliki tembok, memiliki atap, memiliki pintu, memiliki jendela, dan lain-lain.

Unsur pelengkap rumah adalah perabot-perabotnya. Unsur pelengkap rumah bagi setiap orang bisa berbeda-beda.Ada orang yang memliki rumah yang perabot-perabotnya lengkap, ada orang yang perabot-perabotnya kurang, dan bahkan ada orang yang perabot-perabot rumahnya sangat minim. Di antara perabot-perabot rumah itu ialah kursi dan meja tamu, tempat tidur, lemari, meja tulis, AC, kulkas, dll. Dapat dibayangkan kalau kita tinggal di sebuah rumah yang tidak ada perabot-perabotnya.

Demikianlah pula puasa itu, di samping harus memiliki unsur-unsur utama, juga harus dilengkapi dengan unsur-unsur pelengkap di antaranya:
1. Membaca Al-Qur’an
2. Berzikir
3. Qiyamul lalil (salat malam)
4. Bersedakah
5. I’tikaf di Masjid
6. Melakukan umrah Ramadhan
7. Menghidupkan lailatul qadr dengan ibadah

Salah satu ciri khas bulan Ramadhan adalah adanya lailatul qadr di dalamnya. Lailatul qadr tidak terdapat pada bulan-bulan yang lain, ia hanya ada pada bulan Ramadhan. Lailatul qadr (malam kemuliaan) adalah suatu malam yang memiliki nilai yang paling tinggi dari malam-malam yang lain. Malam qadr (lalatul qadri), seperti yang digambarkan oleh Allah swt. di dalam Al-Qur’an, lebih baik dan lebih utama daripada seribu bulan. Yang dimaksud adalah bahwa suatu amal yang dilakukan pada malam itu lebih baik dan lebih utama daripada ibadah yang dilakukan selama seribu bulan.
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan.Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” [QS Al Qadar: 1 - 5]
Asbabun Nuzul (Sebab-sebab turunnya ayat Al Qur’an) di atas adalah:
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Rasulullah saw. pernah menyebut-nyebut seorang Bani Israil yang berjuang fisabilillah menggunakan senjatanya selama seribu bulan terus menerus. Kaum muslimin mengagumi perjuangan orang tersebut. Maka Allah menurunkan ayat ini (QS. Al Qadr: 1-3) yang menegaskan bahwa satu malam lailatul qadr lebih baik daripada perjuangan Bani Israil selama seribu bulan itu.

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa di kalangan Bani Israil terdapat seorang laki-laki yang suka beribadah malam hari hingga pagi dan berjuang memerangi musuh pada siang harinya. Perbuatan itu dilakukannya selama seribu bulan. Maka Allah menurunkan ayat ini (QS. Al Qadr : 1-3) yang menegaskan bahwa satu malam lailatul qadr lebih baik daripada amal seribu bulan yang dilakukan oleh seorang laki-laki dari Bani Israil tersebut.
Para sahabat kagum dan iri karena lelaki Bani Israel tersebut selama 1.000 bulan (83 tahun 4 bulan) selalu beribadah dan berjihad kepada Allah karena sejak lahir dia sudah berada di atas agama yang lurus. Sedang para sahabat karena ajaran Islam baru disyiarkan Nabi, banyak yang masuk Islam pada umur 40 tahun atau lebih. Sehingga sisa waktu mereka hanya 20-30 tahun saja. Tak bisa menandingi ibadah lelaki dari Bani Israel tersebut.

Karena itulah turun ayat di atas. Jika ummat islam beribadah pada malam tersebut, niscaya pahalanya sama dengan pahala 1000 bulan. Karena itu perbanyaklah shalat, dzikir, doa, membaca Al Qur’an, bersedekah, dan berjihad di jalan Allah pada malam Lailatul Qadar.

Kapan Malam Lailatul Qadar itu Terjadi?
Malam Lailatul Qadar terjadi pada 1 malam ganjil pada 10 malam terakhir di bulan Ramadhan (malam ke 21, 23, 25, 27, atau 29):
Pendapat yang paling kuat, terjadinya malam Lailatul Qadr itu pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan:
Aisyah r.a. berkata, “Rasulullah ber’itikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, dan beliau bersabda, ‘Carilah malam qadar pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” [HR Bukhari dan HR Muslim]
Jika berat mencari pada 10 malam terakhir, coba cari pada 7 malam terakhir:
Dari Ibnu Umar ra bahwa beberapa shahabat Nabi SAW melihat lailatul qadr dalam mimpi tujuh malam terakhir, maka barangsiapa mencarinya hendaknya ia mencari pada tujuh malam terakhir.” Muttafaq Alaihi.

Bagaimana Cara Mengisi Malam Lailatul Qadar?
Nabi Muhammad ber-i’tikaf (tinggal di masjid) pada 10 malam terakhir:
Aisyah r.a. berkata, “Nabi apabila telah masuk sepuluh malam (yang akhir dari bulan Ramadhan) beliau mengikat sarung beliau, menghidupkan malam, dan membangunkan istri beliau.” [HR Bukhari]
Nabi juga bersabda : "Barangsiapa mendirikan malam (sholat) Lailatul qodar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lewat diampuni." [Hadits Riwayat Imam Bukhori dan Imam Muslim]
Lalu apa yang dibaca ketika malam Lailatul Qodar? Dari ‘Aisyah ra bahwa dia bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana jika aku tahu suatu malam dari lailatul qadr, apa yang harus aku baca pada malam tersebut? Beliau bersabda: “bacalah:
Allahumma innaka 'afuwwun karim tuhibbul 'afwa fa' fu'anni
(artinya: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau menyukai ampunan, maka ampunilah aku).” Riwayat Imam Lima selain Abu Dawud.

Hadirin Jamaah Jumat yang berbahagia
Ciri-ciri dari orang yang mendapat Malam Lailatul Qadar adalah dia ibadahnya lebih rajin daripada sebelumnya. Dia jadi lebih rajin shalat, puasa, sedekah, dsb. Tidak berani mengerjakan hal-hal yang maksiat. Tidak mungkin dia mabuk-mabukan, berjudi, atau pun mendekati zina.

Oleh karena itu, Ramadhan yang tinggal beberapa hari ini kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Memperbanyak beribadah kepada Allah, memperbanyak mendekatkan diri kepadaNya disaat orang-orang sudah sibuk meramaikan pasar-pasar. Kita usahakan tetap meramaikan masjid. Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan mengampuni segala dosa kita. Amin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. َقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُوا اللهَ ِليْ وَ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ.

Sabtu, 06 Agustus 2011

Menghidupkan Qiyamullail


Hadirin wal hadirot yang dirahmati Allah

Setiap manusia pasti punya kebutuhan dalam hidup. Baik kebutuhan yang berupa materi atau pun kebutuhan yang bersifat nonmateri. Ada yang butuh mendapat pekerjaan, ada yang butuh ingin membeli ini dan itu, ada yang butuh dilancarkan usahanya, ada yang butuh anaknya yang bandel biar sadar, dan lain sebagainya. Lantas kepada siapa kita akan mencurahkan segala kebutuhan kita? Kepada tetangga? Ternyata tetangga juga banyak kebutuhan. Yang pasti kita mencurahkan kebutuhan-kebutuhan kita kepada Allah Swt. Dan waktu yang tepat adalah saat manusia terlelap dalam mimpinya, yaitu di malam hari atau sepertiga malam dengan melaksanakan sholat Tahajud atau qiyamullail. Sholat Tahajud ibarat ketok pintu jika kita mau bertemu dan bercakap-cakap dengan Allah dan doa itu adalah keluh kesah kita.

Allah berfirman:

Dan pada sebagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji.

Kita harus percaya bahwa Allah akan mengabulkan doa-doa kita. Apalagi pada malam hari. Doa kita pasti dikabulkan. Sesuai dengan sabda Nabi:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ فِي اللَّيْلِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ

Dari Jabir r.a., ia barkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya pada malam hari itu benar-benar ada saat yang seorang muslim dapat menepatinya untuk memohon kepada Allah suatu kebaikan dunia dan akhirat pasti Allah akan memberikannya (mengabulkannya) dan itu setiap malam.” (H.R. Muslim dan Ahmad)


Hadirin Jamaah sholat Isya’ dan Tarawih yang berbahagia,

Qiyamullail adalah sarana berkomunikasi seorang hamba dengan Tuhannya. Sang hamba merasa lezat di kala munajat dengan Penciptanya. Ia berdoa, beristighfar, bertasbih, dan memuji Sang Pencipta. Dan Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, sesuai dengan janjinya, akan mencintai hamba yang mendekat kepadanya. Kalau Allah swt. mencintai seorang hamba, maka Ia akan mempermudah semua urusan dan permasalahan hidup hambaNya. Dan memberi berkah atas semua aktivitas sang hamba Sang hamba akan dekat dengan Tuhannya, diampuni dosanya, dihormati oleh sesama, dan menjadi penghuni surga yang disediakan untuknya.

Hadirin wal hadirot yang berbahagia

Seorang muslim yang rutin mengerjakan qiyamullail, pasti dicintai dan dekat dengan Allah swt. Karena itu, Rasulullah saw. menganjurkan kepada kita, “Lazimkan dirimu untuk shalat malam karena hal itu tradisi orang-orang shalih sebelummu, mendekatkan diri kepada Allah, menghapus dosa, menolak penyakit, dan pencegah dari dosa.” (HR. Ahmad)

Qiyamullail memerlukan kesungguhan dan kebulatan tekad. Jika ada tekad, akan sangat mudah merealisasikannya dengan izin Allah. Berikut ini kiat-kiat pendorong meninggalkan tempat tidur untuk bermunajat kepada Yang Maha Pengasih.

(1) Programlah aktivitas kita di hari yang malamnya kita rencanakan untuk qiyamulail agar memungkinkan kita tidak kelelahan. Sehingga tidak membuat kita tidur terlalu lelap.

(2) Hindari maksiat. Sebab menurut pengalaman Sufyan Ats-Tsauri, “Aku sulit sekali melakukan qiyamullail selama 5 bulan disebabkan satu dosa yang aku lakukan.”

(3) Ketahuilah fadhilah (keutamaan) dan keistimewaan qiyamulail. Dengan begitu kita termotivasi untuk melaksanakannya.

(4) Tumbuhkan perasaan sangat ingin bermunajat dengan Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

(5) Makan malam jangan kekenyangan, berdoa untuk bisa bangun malam, dan jangan lupa pasang alarm sebelum tidur.

(6) Baik juga jika kita janjian dengan beberapa teman untuk saling membangunkan dengan miscall melalui telepon atau handphone yang kita miliki.

(7) Buat kesepakatan dengan istri dan anak-anak bahwa keluarga punya program qiyamullail bersama sekali atau dua malam dalam sepekan. Berdoalah kepada Allah swt. untuk dipermudah dalam beribadah kepadaNya.

Kiranya cukup sekian yang bisa saya sampaikan. Semoga Allah mempermudahkan semua kebutuhan dan hajat kita dan dipermudahkan dalam bermunajat padanya di malam hari. Amin.

Ramadhan Melatih Keikhlasan


Hadirin wal hadirot yang dimulyakan Allah

Manusia hidup didunia ini tak lain adalah untuk beribadah kepada-Nya. Segala aktifitas kita hanya kita lakukan semata-mata untuk Allah. Walaupun pada kenyataanya kita bekerja, peras keringat banting tulang untuk menghidupi keluarga, tapi kita niatkan untuk memenuhi perintah Allah. Jika tidak kita niatkan semata-mata perintah Allah maka akan hampa.

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat:56)

Dikarenakan tujuan kita diciptakan untuk beribadah kepada-Nya, maka kita tidak boleh beribadah kepada selain Allah. Kita harus bisa menuluskan niat kita dan mengikhlaskannya hanya kepada Allah. Oleh karena itu, kunci diterimanya amal ibadah kita adalah keikhlasan.

Rasullullah bersabda yang artinya: ”sesungguhnya setiap amal itu tergantung niatnya. Dan setiap orang itu mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Hadits tersebut menunjukkan bahwa ketulusan niat merupakan sumber kelurusan sebuah amal. Ketika amal sudah benar dan lurus niscaya Allah akan berkenan menyambutnya. Tetapi ketika niat dalam beribadah sudah melenceng dari rel keikhlasan, maka amal itu pun menjadi rusak. Allah enggan menerimanya.

Hadirin wal hadhirot Rohimakumulloh,

Di bulan Ramadhan ini kita dilatih untuk ikhlas. Mulai dari fajar kita telah mengikhlaskan makanan kita untuk seharian tidak kita santap sementara waktu. Di bulan ini kegiatan ibadah akan dilipat gandakan pahalanya oleh Allah. Oleh karena itu, marilah kita saling berlomba-lomba untuk beribadah sebanyak dan sebaik mungkin dengan niat hanya untuk Allah. Tanpa mengharap pamrih, tanpa mengharap pujian dari sesama makhluk Allah. Umpama kita mengerjakan sholat maghrib. Niat awalnya sudah lurus, yakni mengerjakan kewajiban kepada Allah. Kemudian di saat kita sholat, direkaat kedua datanglah seorang yang kita cintai atau kita hormati. Karena ingin mendapat pujian darinya, sholat yang pada rekaat pertama super kilat, direkaat kedua diperlambat, bacaan Qur’annya dibagus-baguskan, rukuk sujudnya diperlama, dan lain sebagainya. Niat kita ketika melaksanakan sholat tadi telah melenceng, dari yang asalnya lillahi ta’ala menjadi lil manusia..karena orang itu. Inilah salah satu penghalang keikhlasan ibadah kita, yaitu riya’ (pamer).

Hadirin wal hadhirot yang berbahagia,

Dalam beribadah kita diharuskan untuk ikhlas.


Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah:5)

Untuk bisa meraih ikhlas ini, kita mesti membersihkan hati dari segala yang selain Allah. Kita memurnikan tujuan ibadah kita hanya untuk Allah. Bukan yang lain. Sikap ikhlas ini hanya muncul ketika kita benar-benar mencintai Allah. Kita menggantungkan seluruh harapan hanya kepada-Nya. Ketika kita beribadah, baik itu, sholat, puasa, sedekah, zakat, membaca al-Qur’an, berdzikir dan lainsebagainya maka tujuan kita hanya satu, yakni Allah.

Hal ini sesuai dengan ajaran tauhid yang termaktub dalam surah al-Ikhlas.

Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." (QS. Al-Ikhlas:1-4)


Inilah mengapa surah tersebut dinamakan al-Ikhlas. Karena surah tersebut mengajarkan ketauhidan hamba. Artinya, ketika seorang hamba sudah mengikrarkan tauhid bahwa hanya Allah yang patut disembah, maka diapun menauhidkan seluruh ibadahnya hanya kepada Allah. Hanya satu tujuan, yaitu Allah. Tidak ada yang lain.

Oleh karena itu, marilah dibulan puasa ini kita melatih keikhlasan kita. Kita raih sebanyak-banyaknya amal ibadah, seperti sholat sunah, qiyamullail, membaca al-Quran, dzikir, sedekah dan lain sebagainya dengan niat karena Allah Swt.


Wassalam..

Komen Via Facebook