Waktu Lebaran

Habis sholat Idhul Fitri berpose dulu di rumah..

Di Kudus

Mau beli jajanan khas Kudus eh ada museum rumah adatnya..numpang foto..

Di Jogja

Beli blangkon khas Jogja.. Coba dulu baru beli..

Pelatihan Khatib dan Da'i Muda

untuk mengembangkan bakat da'i muda dan mencetak khatib handal...

Mina 2005

Waktu di Mina ama bapak

Candi Cetho Karanganyar

Touring ke candi Cetho, Karanganyar.. kalo kesini lebih baik pake motor, jangan mobil. soalnya jalannya nanjak banget..

Rabu, 07 September 2011

Hukum Tuhan di Indonesia



Pernah saya mendengarkan ceramah seorang ustadz yang terbilang ekstrem (keras). Dia mengatakan bahwa hukum di Indonesia, KUHP, tidak sesuai dengan hukum Allah. Sehingga, la hukma illa lillah, tidak ada hukum kecuali hukum Allah. Maka barangsiapa yang berhukum pada selain hukum Allah dia kafir. Sang ustadz kemudian mengkafirkan pemimpin di negeri Ini. Setelah selesai ceramah, saya mendekati ustadz kemudian menyalaminya. Tapi, saya tidak mendebatnya. Saya hanya mengucapkan salam kemudian mengikutinya sampai ke kendaraan. Saya kira ustadz memakai kendaraan kuda atau onta. Ternyata memakai mobil buatan Amerika. Negara yang ikut dikafir-kafirkan dalam ceramahnya tadi.


Saat ini dan mungkin akan terus ada, umat Islam yang berpandangan seperti ustadz tadi. Mudah mengkafirkan, memusyrikkan. Hal ini dikarenakan rasa 'kepemilikan' terhadap Islam secara berlebihan. Sehingga, orang yang tidak sependapat atau sepaham tidak 'berhak' atas Islam. Mereka kafir. Rasa kepemilikan ini mungkin bersumber pada hadist Nabi yang mengatakan, "Umatku kelak akan terpecah-pecah ke dalam 71 golongan,dan hanya satu dr mereka yg selamat." Dari hadist Nabi ini kemudian muncul kelompok2 yg merasa sebagai golongan yg selamat. Konsekuensi logisnya, mereka menganggap sesat kelompok Islam yng lain. Hal ini pertama terjadi pada ranah teologi Islam. Dimana aliran-aliran saling bertikai dan sering melempar tuduhan kafir.
Yang paling terkenal adalah sekte Khawarij yang mengaku sebagai pembela Islam yang hendak menegakkan kedaulatan hukum Allah, tapi ujung-ujugnnya mengkafirkan para sahabat Nabi. Lantas, benarkah hanya satu golongan umat Islam saja yang masuk syurga? Dan apakah kita sudah masuk ke golongan itu? Wah, ini pertanyaan sulit. Saya tidak bisa menjawabnya. Kalau kita tanya Imam Ghozali, beliau akan menjawab, semua umat Islam akan masuk syurga. Lha kok?


Dalam makalahnya yang berjudul 'fashal al-Tafriqah baina al Muslim wa al-Zandaqoh' al-Ghozali mengatakan bahwa memang dalam hadist disebut hanya satu golongan yang selamat, tapi yang dimksud disini adalah satu golongan yg langsung masuk syurga secara ekspres,tanpa hambatan. Yang lain mungkin perlu melewati fase "pencucian" dulu di neraka, kemudian bisa masuk syurga. Lantas, bagimana yang termasuk kategori kafir? Apakah semudah itu orang menjadi kafir? Al-Ghozali mengatakan bahwa pilar fundamental dalam keimanan hanya ada tiga, iman kepada Allah,kepada Muhammad sebagai Rasulullah, dan kepada datangnya hari kiamat. Orang dikatakan kafir jika mengingkari tiga hal pokok tersebut. Sedangkan di luar kategori tersebut adalah persoalan-persoalan sekunder yang apabila seorang muslim menyangkalnya sekalipun tidak menjadikannya kafir. Dalam hal ini kita bisa melihat apa yang dituduhkan oleh ustadz tadi dalam ceramahnya bahwa pemerintah kafir karena tidak berhukum pada hukum Allah. Lantas, hukum Allah mana yang dimaksud?


Hukum Allah dibagi menjadi 2 kategori, hukum qoth'i (pasti)dan dzanni (dugaan). Hukum qoth'i adalah syari'at (Qur'an dan hadist),sedang hukum dzanni adalah hukum ijtihadi (fiqih). Selepas wafatnya Nabi tidak mungkin kita hnya menggunakan hukum pertama saja (syari'at). Sebab di zaman Nabi segala permasalahan langsung ditanyakan kepada beliau. Sehingga adanya syaari', orang yang menghukumi syari'at hanya ada ketika Nabi masih hidup. Sepeninggal beliau yang ada hanya mujtahid.

Kita bisa menengok sejarah tatkala khalifah Umar Ibnu Khattab tidak memberlakukan hukum potong tangan terhadap seorang pencuri disebabkan pada saat itu sedang musim paceklik / krisis moneter. Apakah tindakan Umar tersebut tidak sesuai dengan hukum Tuhan? Padahal dalam al-Qur'an pencuri laki-laki dan perempuan dipotong tangannya? Jika Umar tidak menghukumi dengan hukum Tuhan berarti beliau masuk neraka? Padahal beliau dijamin Rasul masuk syurga menemani Rasulullah? Jawabannya, khalifah Umar memakai hukum Tuhan yang kedua, yaitu hukum ijtihadi. Karena hukum Tuhan yang syari'at tidak mungkin diberlakukan disaat keadaan negaranya sedang mengalami krisis. Begitu juga di Indonesia. Semenjak zaman dulu sampai sekarang hukum maupun undang-undang telah banyak yang direvisi disesuaikan dengan kondisi zamannya. Jika masih banyaknya ketidakadilan dalam penegakan hukum itu hanya masalah penegak hukum itu sendiri. Bukan hukumnya.

Selasa, 06 September 2011

Catatan Tentang Skuad Garuda


Berat sudah langkah timnas untuk lolos ke babak selanjutnya di qualifikasi piala dunia setelah menelan kekalahan beruntun melawan Iran dan Bahrain. Tim besutan Wilhelmus Rijsbergen , pelatih asal Belanda harus menelan kenyaaan pahit kalah di kandang sendiri melawan Bahrain, 2-0. Hasil yang sangat buruk didepan puluhan ribu pendukung sendiri. Penampilan apik timnas seperti saat pertandingan Piala Asia lalu tidak kita jumpai dalam permainan timnas saat ini. Ya, sebab beda pelatih maka beda pula cara meracik formasi.

Saya bukan pengamat ataupun pakar sepakbola. Saya hanya penikmat sepakbola. Terus terang, semenjak timnas bermain melawan Palestina sampai tadi malam melawan Bahrain saya kurang tertarik dengan permainan timnas. Walaupun ketika melawan Palestina bisa menang 'besar',namun saya tidak puas. Ada perbedaan mencolok yang terjadi timnas saat ini dengan timnas ketika dilatih Alfred Riedl. Riedl lebih mengandalkan kecepatan dan umpan-umpan pendek. Dan terbukti gempuran-gempuran yang dilancarkan pemain bisa efektif.

Permainan pun juga punya greget dan penonton pun dibuat dag-dig-dug dengan serangan bertubu-tubi dari timnas yang kala itu dipimpin oleh Firman Utina sebagai kapten. Kalau kemarin ketika lawan Iran penonton berdebar-debar karena timnas diserang.

Wilhelmus Rijsbergen, pelatih saat ini, ada yang mengatakan dia belum mengetahui atau mengenal karakter permainan anak buahnya. Makanya tadi malam saya agak rancu ketika Bambang Pamungkas dimasukkan sejak menit awal bersama Gonzales dan Boaz Sallossa. Dan posisi Bambang agak ke tengah dan mengatur permainan. Karena dia kapten. Jika saya melihat, Bambang mempunyai tipikal seperti Gonzales. Harus di depan khusus penerima bola. Jika dua orang ini selalu diduetkan maka serangan timnas 'tidak hidup'. Bisa kita lihat pada permainan kemarin-kemarin.

Saya pribadi cocok dengan formasi yang diracik oleh pelatih sebelumnya, Riedl. Dia mengandalkan kecepatan sehingga di lini depan dipasang pemain yng mempunyai speed cepat. Sisi kiri Okto Maniani, sisi kanan Irfan Bachdim dan depan el loco Gonzales. Tengah adalah Firman Utina. Shg permainan ala liga Inggris, kick n run.

Wah,kebangeten kalo saya ikut usul formasi timnas. Saya hanya seide dengan Riedl dalam membesut timnas. Disiplin dan tak pandang bulu. Bahkan bulunya Boaz juga tidak dipandang. Ketika Boaz dipanggil tidak datang, Riedl langsung mencoret namanya dari timnas. Tapi,pelatih sekarang 'menganak-emaskan' Boaz. Seakan-akan dewi fortuna ada pada Boaz. Permainan Boaz memang sangat bagus. Andaikata tadi malam Boaz dipasang ditengah mengantikan BP dan posisi kanan diisi Irfan. Mungkin akan lebih menarik walau mungkin juga tidak menang. Masih ada pertandingan melawan Qatar. Mungkinkah sang pelatih masih membuat formasi seperti kemarin?

Entah karena kebetulan atau tidak, Indonesia berada satu grup dengan negara-negara Arab yang mempunyai postur 'jangkung' alias tinggi. Sehingga kelemahan timnas pada umpan atas dan bola mati. Dengan 'musuh' seperti ini -sekali lagi- saya setuju formasi ala Riedl, mengandalkan pemain ber-speed tinggi.

Pergantian pelatih skuad garuda baru masih menyisakan tanda tanya. Benarkah pergantian ini karena adanya motif dendam antara kepengurusan yg baru dg yg lama. Apa lagi sesaat setelah pertandingan melawan Bahrain Wim mengatakan pemain Indonesia belum pantas ke level Internasional.

Tentu saja pernyataan Wilhelmus Rijsbergen tersebut tidak pantas dilontarkan mengingat timnas pernah tampil ciamik saat dilatih Riedl. Dan masyarakat Indonesia pun menilai timnas kala itu sudah layak ke level internasional.Yach, kita tunggu pelatih berkebangsaan Belanda itu apakah mundur atau tetap melatih tim yang tak layak ke level internasional itu.

Memahami Bahasa Tuhan dalam Mudik dan Halal Bi Halal

Ritual Thawaf atau mengelilingi ka'bah adalah tradisi sebelum datangnya Islam. Sebelum Nabi Muhammad diutus, Arab Jahiliyyah thowaf dengan telanjang. Rasulullah kemudian meneruskan 'tradisi' thawaf tapi dengan berpakaian dan memuji&meminta pada Allah, Rabbul Ka'bah.


Seandainya Rasulullah diutus di tanah Jawa, pasti Beliau juga akan melakukan pendekatan dakwah sebagaimana yang telah dilakukan oleh Raden Mas Said atau Sunan Kalijaga. Orang Arab suka syair2 dan puisi, alQur'an turun dengan gaya bahasa yang indah. Orang Jawa dulu suka wayang, Rasul kalo turun di Jawa mungkin juga akan berdakwah dengan wayang. Itulah mengapa Allah mengatakan bahwa seorang Rasul diutus sesuai dengan bahasa umatnya. Seperti ketika zaman Nabi Musa, umat kala itu 'gandrung' dengan sihir, sulap, magic, maka Nabi Musa dibekali Allah dengan ilmu sihir.


Sampai saat ini masih ada dan akan tetap ada umat yang terkotak oleh kejumudan syari'at. Padahal, jika menengok sejarah hukum Islam bahwa syariat bersifat elastis. Ia ibarat air bening yang oke masuk dimana saja dan tidak akan memecahkan 'wadah'nya.


Tradisi mudik adalah tradisi lokal masyarakat Indonesia yang tidak kita temui di negara Arab yang merupakan kiblat umat Islam. Rasul juga tidak mensyari'atkan mudik. Tujuan dari mudik adalah silaturahmi ke sanak saudara dan saling meminta maaf atas segala kesalahan. Kalau kita cari kata 'mudik' dalam qur'an dan hadits tak kan kita temui. Ada yang mengatakan bahwa silaturahmi dan bermaafan bisa dilakukan kapan saja. Iya, memang benar. Tapi, melihat sosio-kultural masyarakat Indonesia yang banyak mengadu nasib ke kota2 besar dan jauh dari keluarga,jarang pulang kampung maka momen lebaran adalah saat tepat untuk 'menyambangi' keluarganya. Dan menghapus dosa sesama setelah melakukan ibadah puasa. Sebab dosa pada Allah telah terampuni.


Indonesia, dengan jumlah penduduk yang begitu banyak,yang tentunya kita mempunyai sanak saudara yang banyak juga maka diadakan suatu kegiatan yang terinspirasi dari ide KGPAA Mangkunegara I atau yang terkenal dengan sebutan Pangeran Sambernyawa, yaitu acara Halal Bi Halal. Tujuannya untuk efektifitas waktu,tenaga dan biaya. Saya tidak bisa membayangkan jika tidak ada tradisi 'mudik' dan halal bi halal, saling memaafkan. Apakah kita sempat silaturahmi ke sanak jauh dan meminta maaf atas kesalahan terhadap teman dekat sekalipun?! Mungkin di hari biasa kita ada yang canggung untuk meminta maaf.


Ada juga yang mengatakan, mudik adalah sebuah pemborosan keuangan. Apakah untuk melaksanakan sebuah amalan yang mengandung amal shaleh tidak mengeluarkan biaya sebagaimana ketika melaksanakan ibadah haji? Dalam masalah silaturahmi pun Allah telah berjanji akan melapangkan rizkinya dan memanjangkan umurnya. Bukankah begitu?


Kesimpulannya, bahwa mudik dan acara halal bihalal bukan lah sebuah syari'at dan jangan disalahkan atau dicela dan dipaksa-paksa dengan bingkai 'syari'at'. Ia adalah tradisi sekelompok umat yang didalamnya mengandung ajaran agama, yaitu silaturahmi dan saling memaafkan juga saling berbagi pada sesama. Karena Tuhan punya bahasa untuk umatnya.



Wallahu a'lam bishhowab


Ghurfatul Huzny, 06 September 2011

Komen Via Facebook